Alasan Menteri Pertahanan Bilang Helikopter Jatuh Bukan karena Teroris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi helikopter jatuh. GETTY IMAGES

    Ilustrasi helikopter jatuh. GETTY IMAGES

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu membantah tudingan bahwa helikopter TNI Angkatan Darat jatuh di Poso karena serangan kelompok teroris Santoso. "Mereka, Santoso cs, tak punya kemampuan menjatuhkan helikopter," kata Ryamizard di kantornya, Senin, 21 Maret 2016.

    Baca: Helikopter TNI Jatuh di Poso karena Ditembak Santoso cs?

    Ryamizard pun meminta masyarakat bersabar dan menunggu proses investigasi yang dilakukan TNI. Sebab, menurut dia, ada sejumlah faktor yang bisa menjadi penyebab jatuhnya helikopter di Poso. "Bisa saja cuaca, mesin, dan lain-lain," ucapnya. "Makanya harus hati-hati investigasinya."

    Baca: Ini Cerita Keluarga Kapten Agung, Korban Heli Jatuh di Poso

    Ryamizard juga mengaku heran dengan alutsista TNI yang sering kecelakaan. Sebelumnya, pesawat Super Tucano jatuh di Malang, Jawa Timur, seusai perbaikan. "Ini pekerjaan Kementerian Pertahanan untuk memeriksa secara detail hal tersebut. Ini juga helikopter baru, ini kenapa," ujar Ryamizard.

    Helikopter TNI AD jatuh di Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Helikopter ini dipastikan jatuh di perkebunan warga karena faktor cuaca. Kecelakaan tersebut merenggut 13 nyawa: 7 penumpang dan 6 kru helikopter.

    Helikopter jatuh sekitar pukul 17.55 Wita setelah sebelumnya menempuh perjalanan 30 menit. Helikopter itu berjenis Bell 412 EP dengan nomor HA5171 milik TNI yang dibeli pada 2012. Mereka melakukan tugas operasi bantuan TNI kepada Polri terkait dengan terorisme di Poso. Tugas ini sudah berlangsung sejak Desember 2015.

    Baca: Panglima: Kotak Hitam Helikopter TNI yang Jatuh Masih Dicari

    INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.