250 Dokter Bertemu di Bandung Bahas LGBT  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota komunitas LGBT memegang bendera berwarna pelangi dalam parade penuntutan kebebasan hak kaum LGBT di Mumbai, India, 6 Februari 2016.  AP Photo/Rajanish Kakade

    Seorang anggota komunitas LGBT memegang bendera berwarna pelangi dalam parade penuntutan kebebasan hak kaum LGBT di Mumbai, India, 6 Februari 2016. AP Photo/Rajanish Kakade

    TEMPO.CO, Bandung - Sebanyak 250 orang dokter dari berbagai daerah di Indonesia menghadiri pertemuan ilmiah tentang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di gedung Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Jalan Eyckman, Bandung. Bertema “Quo Vadis (Mau ke Mana) LGB-T?”, topik yang dibahas mencakup isu terakhir, pemahaman tentang LGBT, kajian neurosains, penanganan pasien, serta penularan HIV dan penyakit AIDS.

    Ketua panitia acara tersebut, Lucky Saputra, mengatakan beberapa bulan ini isu tentang LGBT menjadi ramai. “Supaya dapat memberikan sesuatu yang lebih jelas lagi bagaimana sikap kita secara medis, kita melakukan pertemuan ilmiah ini,” katanya. Hasilnya diharapkan bisa menjadi masukan bagi pemerintah daerah serta pengurus pusat kedokteran jiwa.

    Peserta yang berjumlah 250 orang ini umum berprofesi sebagai dokter dan psikiater serta beberapa psikolog, yang berasal dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, serta rumah sakit lain di Bandung, Karawang, Cirebon, Lampung, Bengkulu, dan Bali. Acara tersebut terselenggara atas kerja sama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat, Sabtu, 19 Maret 2016.

    Menurut panitia, sampai saat ini belum ada kesepahaman para ahli di berbagai disiplin ilmu tentang homoseksual. Karenanya, hal ini menimbulkan kebingungan dan kontroversi di masyarakat. Misalnya apakah homoseksualitas itu penyakit atau bukan. Sementara itu, banyak masyarakat yang menolak keberadaan homoseksual dan transgender karena alasan budaya atau agama.

    Berdasarkan data Survei Terpadu Biologis dan Perilaku pada 2009 dan 2013, LGBT melakukan perilaku seksual berisiko tertular HIV-AIDS. “Sebanyak 73 persen homoseksual melakukan hubungan seks anal (dubur) dengan frekuensi rata-rata sekali per minggu. Sekitar 54 persen berisiko karena tidak memakai kondom,” kata psikiater dari RS Hasan Sadikin, Teddy Hidayat.  

    Di Jawa Barat, khususnya, tren kasus baru AIDS bergeser dari data Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Barat pada 2008 dan 2013. Menurut Teddy, angka penularan HIV melalui jarum suntik menurun dari sekitar 70 persen (2008) menjadi 12,30 persen (2013). Sedangkan penularan HIV dari kelompok heteroseksual mengalami peningkatan dari sekitar 23 persen (2008) menjadi 73 persen (2013). “Kemungkinan telah terjadi penyebaran (risiko HIV) dari kelompok homoseks lelaki ke populasi umum,” ujar Teddy.

    Asisten Daerah Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Barat, Ahmad Hadadi, mengatakan masyarakat perlu mendapat edukasi tentang LGBT supaya paham. Utamanya agar generasi muda Jawa Barat tetap sehat, kuat, dan cerdas. “Melalui lembaga pendidikan formal, para guru diberi pemahaman tentang ini, mulai pergaulan hingga segala macam yang kita khawatirkan. Sebab, tingkat SD saja ada yang tertular AIDS,” kata Wakil Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Barat itu.



    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?