Ribuan Pria Beristri di Jawa Barat Homoseksual?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi homoseksual. AP/dpa,  Michael Reichel

    Ilustrasi homoseksual. AP/dpa, Michael Reichel

    TEMPO.COBandung - Psikiater Rumah Sakit Umum Pusat dr Hasan Sadikin, Bandung, Teddy Hidayat, mengatakan ribuan suami di Jawa Barat diduga sebagai homoseksual atau biseksual. Menurut dia, sebagian kini hidup sebagai orang dengan virus HIV atau berpenyakit AIDS (ODHA) dan dicurigai menulari istrinya. “Suami homoseks ada yang terlihat normal, punya istri dan anak,” kata Teddy Hidayat.

    Teddy, yang juga aktif dalam kegiatan penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Barat, mengkaji data Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Barat. Pada grafik orang dengan HIV/AIDS (ODHA) berdasarkan kelompok risiko di Jawa Barat, kenaikan penularan kasus baru pada kelompok homoseks lelaki atau lelaki suka lelaki (LSL) sejalan dengan kenaikan penularan kepada wanita risiko rendah, yakni ibu rumah tangga.

    Pada 2011, homoseks lelaki yang terjangkit HIV dan mengidap AIDS sebanyak 68.175 orang dan meningkat menjadi 153.771 orang pada 2016. Garis grafik kenaikannya sejajar dengan kasus HIV/AIDS pada kalangan wanita berisiko rendah atau ibu rumah tangga, yakni 190.349 orang pada 2011 menjadi 279.276 orang pada 2016.

    “Kondisi ini perlu dikaji lebih dalam soal kemungkinan terjadinya penyebaran HIV/AIDS dari kelompok homoseks lelaki ke populasi umum,” ujarnya.

    Berdasarkan Kinseys Heterosexual-Homosexual Rating Scale dari 0-6, skala 0 menunjukkan heteroseksual (penyuka lawan jenis) murni, dan skala 6 merupakan homoseksual tulen. “Bisa beristri tapi hanya formalitas,” tutur Teddy.

    Adapun kalangan pada skala 1-5 merupakan biseksual yang melakukan aktivitas seksual dengan lawan dan sesama jenis. Teddy mengaitkan skala itu pada data lain tentang tren kasus baru AIDS di Jawa Barat.

    Menurut dia, epidemi HIV/AIDS di Jawa Barat bergeser dari mayoritas pengguna narkoba suntikan, yang hampir 70 persen pada 2008, ke kalangan heteroseksual (73,26 persen) pada 2013, yang diduga di dalamnya ada kelompok biseksual. “Perlu alat screening untuk memastikan dia biseksual atau homoseks murni,” ucapnya.

    Teddy mengaku khawatir, jika data penyaringan tidak segera dibuat, penularan HIV/AIDS bakal lebih sulit dikendalikan karena tidak semua orang setuju dengan kondom. “Tahun mendatang, sepuluh tahun lagi, jumlah HIV/AIDS terbesar pada kelompok lelaki suka lelaki (LSL) diikuti perempuan berisiko rendah, ini yang bahaya,” ujarnya.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...