Koleksi Kebun Binatang Semarang Diduga Ilegal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor Orangutan koleksi Kebun Binatang Mangkang Semarang bergelantungan di tali bermain yang baru dibangun disekitar kandangnya, Kamis (22/3). TEMPO/Budi Purwanto

    Seekor Orangutan koleksi Kebun Binatang Mangkang Semarang bergelantungan di tali bermain yang baru dibangun disekitar kandangnya, Kamis (22/3). TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Semarang - Pengunjung kebun binatang bisa saja tidak peduli bagaimana koleksi hewan di kebun binatang itu diperoleh. Namun aktivis peduli satwa dilindungi dari Centre for Orangutan Protection (COP) meradang ketika tahu hewan koleksi kebun binatang Mangkang Kota Semarang, Jawa Tengah, dibeli secara ilegal.  

    Coordinator of Anti-Wildlife Crime COP, Daniek Hendarto, mengatakan penangkapan seorang pegawai negeri sipil petugas kebun binatang Mangkang terbukti sedang transaksi membeli seekor beruang madu untuk melengkapi koleksi kebun binatang itu.

    “Itu terjadi pada 11 Februari 2016 saat Tipidter Bareskrim Mabes Polri menangkap pedagang satwa dilindungi di Yogyakarta. Salah satu pembelinya pegawai kebun binatang Mangkang,” kata Daniek, saat mendatangi kantor Wali Kota Semarang hari ini, 16 Maret 2016.

    Daniek menyebutkan, pegawai kebun binatang Mangkang juga terbukti membeli satwa burung julang emas dengan pedagang satwa di Yogyakarta pada Januari 2016. “Jadi telah dua kali membeli satwa ke pedagang Yogyakarta,” ujarnya.

    Menurut Daniek, selain melanggar Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 31 Tahun 2012 yang melarang menjualbelikan satwa dilindungi, kebun binatang juga melanggar Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1990 tentang konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

    “Dalih kebun binatang memperbanyak koleksi satwa dengan cara membeli juga dilarang. Seharusnya tukar-menukar antarkebun binatang dan diawasi oleh Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI),” ujar Daniek.

    COP meminta agar Wali Kota Semarang mengaudit kebun binatang Mangkang terkait dengan temuan itu untuk menghindari jual-beli satwa yang melibatkan petugasya.

    Aktivis peduli satwa itu juga meminta agar Wali Kota Semarang memberikan sanksi berat kepada pegawai yang terbukti terlibat dalam perdagangan satwa. “Kebun binatang juga harus terbuka kepada publik bila akan menambah satwa, kelahiran, kematian, dan pertukaran guna membangun keterbukaan informasi publik,” katanya.

    Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Semarang Herawan Sasoko membantah pembelian satwa langka oleh pegawai itu untuk koleksi kebun binatang Mangkang. “Itu untuk koleksi pribadi tak melibatkan pengelola kebun binatang,” kata Herawan.

    Herawan malah menyesalkan tindakan pegawai kebun binatang Mangkang yang telah membeli tanpa laporan pimpinan. “Ke depan tak ada lagi insiden lagi,” kata Herawan.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.