Seniman 'Pawang' Orang Gila Ini Pantang Minta Tolong  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampak Sri Wulung Jeliteng mendampingi orang-orang dengan gangguan jiwa dan pecandu narkoba di teras halaman rumahnya yang juga sanggar seni Among Budaya Sastro Loyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, 10 Maret 2016. TEMPO/ISHOMUDDIN

    Tampak Sri Wulung Jeliteng mendampingi orang-orang dengan gangguan jiwa dan pecandu narkoba di teras halaman rumahnya yang juga sanggar seni Among Budaya Sastro Loyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, 10 Maret 2016. TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.CO, Mojokerto - Sri Wulung Jeliteng, 57 tahun, seniman dan dalang yang juga merawat puluhan orang dengan gangguan jiwa dan pecandu narkoba ini dikenal pantang meminta bantuan ke pemerintah daerah.

    Selain melatih seni tradisional di rumahnya yang juga sanggar seni Among Budaya Sastro Loyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Wulung juga merawat 43 orang dengan gangguan jiwa dan pecandu narkoba. Mereka menempati 12 kamar yang bersebelahan dengan rumah keluarga Wulung. (Baca: Sri Wulung, Seniman 'Pawang' buat Orang Gangguan Jiwa)

    Meski sudah puluhan tahun merawat orang dengan gangguan jiwa dan pecandu narkoba, Wulung pantang meminta bantuan ke pemerintah daerah. “Saya enggak pernah mengajukan proposal,” katanya, Selasa, 15 Maret 2016. Dia hanya sekali mendapat bantuan beras 25 kilogram dari Dinas Sosial sebagai imbalan jasanya mengamankan orang stress yang mengganggu masyarakat beberapa tahun lalu.

    Dalam membiayai anak-anak binaannya, Wulung mengandalkan penghasilan dari pementasan ludruk, karawitan, dan wayang. Selain itu, keluarga yang menitipkan anggota keluarganya yang punya gangguan jiwa juga memberi dana. “Tapi enggak banyak, hanya beberapa orang saja,” ujarnya.

    Karena kerelaan merawat orang-orang seperti itu, banyak masyarakat yang memberikan bantuan baik makanan maupun barang. "Kalau ada masyarakat yang memberi makanan, sembako, atau buah-buahan ya kami terima," katanya. Dalam sehari, menurutnya, ia menghabiskan 20 kilogram beras untuk makanan mereka.

    Meski terbatas fasilitas dan dana, ia bertekad ikut serta membangun bangsa. “Membangun bangsa dan negara tidak harus pakai lencana dan mahkota. Saya membangun orang-orang yang sifatnya jelek dan tidak waras menurut kemampuan saya. Saya bangun lewat budaya,” ujarnya.

    Mereka yang sembuh, selain kembali ke keluarganya, juga ada yang dicarikan pekerjaan sesuai kemampuan. Bahkan ada yang membantu Wulung merawat pasien yang belum sembuh. Seperti yang dilakukan Haryono asal Jepara, Jawa Tengah, yang pernah mengalami gangguan jiwa. “Saya sudah lima tahun di sini dan alhamdulillah sembuh,” katanya. Haryono membantu membersihkan kamar-kamar teman-temannya yang masih menjalani perawatan.

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.