Cerita Kiai Pesantren Haramkan Imunisasi Polio  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Deddy Mizwar (kanan), memberi vaksin kepada balita pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016 di Kantor Bio Farma, Bandung, 8 Maret 2016. Vaksin polio ini diberikan kepada anak berusia 0-59 bulan. ANTARA/Novrian Arbi

    Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Deddy Mizwar (kanan), memberi vaksin kepada balita pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016 di Kantor Bio Farma, Bandung, 8 Maret 2016. Vaksin polio ini diberikan kepada anak berusia 0-59 bulan. ANTARA/Novrian Arbi

    TEMPO.COCirebon - Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) di Kota Cirebon, Jawa Barat, baru 95,1 persen dari total populasi di sana. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Edi Sugiarto, tingkat partisipasi di tiap kelurahan tergolong tinggi, yaitu di atas 96 persen. “Hanya ada satu kelurahan yang tingkat partisipasinya paling rendah,” katanya.

    Kelurahan yang dimaksudkan Edi adalah Argasunya di Kecamatan Harjamukti. Tingkat partisipasi di Argasunya hanya 60,8 persen. "Terendah ada di Blok Benda,” ujarnya. Dari 139 anak balita yang menjadi sasaran imunisasi polio, hanya 32 yang diimunisasi. Rendahnya tingkat partisipasi di Blok Benda, kata Edi, ditengarai karena pengaruh tokoh agama setempat.

    Menurut Edi, ada tokoh agama yang diduga menyebarkan kabar bahwa vaksin tersebut mengandung minyak babi. “Padahal itu tidak benar,” ucapnya. Produk vaksin ini merupakan produk halal yang dibuat dari rekayasa genetik, bukan dari minyak babi. Petugasnya pun, menurut Edi, langsung turun ke lapangan dan mendatangi setiap rumah warga. Namun warga justru mengunci rapat-rapat pintu rumah mereka.

    Pihaknya, kata Edi, juga sudah berupaya mendatangi kiai di Blok Benda. “Bahkan kami sudah menyiapkan mobil untuk mengajak langsung kiai mengunjungi pabrik pembuatan vaksin,” tuturnya. Namun mereka tetap menolaknya. Kondisi ini sudah berlangsung sejak 15 tahun yang lalu. “Sudah enam kepala dinas kesehatan di Kota Cirebon, tapi belum mampu mengubah sikap warga di daerah tersebut,” katanya.

    Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis tidak memungkiri adanya sebagian warga yang menolak diberi imunisasi polio, yang digelar serempak pada 8-15 Maret 2016. “Hanya 60 persen warga di Argasunya yang balitanya diimunisasi," katanya. Ia menegaskan, warga di sana perlu pendekatan khusus agar memahami pentingnya imunisasi polio bagi anak-anak mereka.

    Sebab itulah, Azis meminta dinas kesehatan setempat terus memberi pemahaman kepada warga di daerah Benda. Pengasuh di pesantren Benda Kerep, M. Miftah, mengaku warga di Benda Kerep masih khawatir terhadap vaksin polio yang diteteskan kepada anak balita mereka. "Kami khawatir vaksin itu terbuat dari minyak babi," ucapnya. Karena itu, hingga kini warga Benda Kerep selalu menolak anaknya divaksin.

    Adapun Benda Kerep selama ini dikenal sebagai kawasan pesantren tradisional yang ada di Kota Cirebon. Hingga kini, sekalipun listrik sudah dibolehkan, televisi tetap tidak diperkenankan masuk ke kawasan pesantren tersebut. Bukan hanya itu, sampai saat ini mereka menolak pembangunan jembatan permanen menuju pesantren itu. 

    IVANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?