Pemerintah Buru Peneliti Muda Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diskusi publik sosialisasi Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2016 di gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, 15 Maret 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    Diskusi publik sosialisasi Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2016 di gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, 15 Maret 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Jakarta - Peluncuran program Ristekdikti-Kalbe Science Awards (RKSA) 2016 yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, bekerjasama dengan PT Kalbe Farma, dan Tempo sebagai mitra media dimaksudkan untuk mendukung implementasi penelitian anak bangsa.

    “Sebagian besar penelitian, khususnya bidang kesehatan hanya berakhir sebagai jurnal. Kalau berkualitas, harusnya bisa masuk industri masyarakat,” ujar External Communications Senior Manager PT Kalbe Farma Hari Nugroho selaku panitia RKSA pada Tempo di gedung D Kemenristekdikti, Senayan, Selasa 15 Maret 2016.

    Hari mengatakan pemerintah dan PT Kalbe Farma melirik peneliti muda yang berkualitas dan memiliki portofolio yang kompetitif. “Ada 2 jenis penghargaan, salah satunya adalah Young Scientist Award yang ditujukan untuk memilih peneliti terbaik yang berumur di bawah 40 tahun,” kata Hari.

    Kategori penghargaan lainnya adalah Best Research Awards. “Untuk yang ini, kami menyorot hasil penelitian, bukan sosok penelitinya,” kata Hari.

    Kata Hari, peneliti yang lebih muda juga dicari Kemenristekdikti dan Kalbe lewat ‘Kalbe Junior Scientist Awards’ yang diadakan setiap tahun sejak 2011. “Kami menyasar anak SD, usia di mana seseorang mulai mendapat pendidikan sains pertamanya,” ujarnya.

    Penelitian dalam Kalbe Junior Scientist Awards, kata Hari, masih menyorot aspek kesehatan, namun dengan level anak-anak. “Kami ingin menanamkan budaya inovasi sejak usia dini pada anak-anak.”

    Hari memberi contoh sejumlah inovasi yang berhasil menang di penghargaan tersebut. “Ada anak yang membuat sebuah ransel yang memiliki alarm. Saat beban tas tersebut melebihi batas normal untuk punggung, alarm berbunyi,” ujar Hari.

    Ada pula sebuah lampu sensor gerak yang diciptakan pemenang Kalbe Junior Scientist Awards, khusus untuk orang yang berolahraga di malam hari. “Seorang anak Bandung yang ciptakan untuk ibunya yang suka jogging di malam hari. Lampu itu dipasang di lengan, dan diatur agar menyala ketika lengan bergerak naik turun.”

    Menurut Hari, penelitian yang sederhana namun kreatif bisa berkembang di kemudian hari. “Pemenang RKSA memang mendapat hadiah uang sebagai penghargaan, tapi tak serta merta penelitiannya bisa langsung selesai dan masuk industri. Prosesnya masih panjang, mulai dari penyelesaian penelitian, hingga pengujian standar dan regulasi oleh pemerintah.”

    Program RKSA 2016 ini merupakan yang kelima sejak 2008 ini. Peneliti muda di bidang kesehatan bisa mengimplementasi penelitian mereka ke masyarakat.

    "Kita perlu sinergi harmonis antara akademi, industri dan pemerintah untuk mewujudkan hasil penelitian yang bernilai tinggi dan bermanfaat," ujar Ketua Umum Panitia RKSA 2016 Pre Agusta di Jakarta, Selasa, 15 Maret 2016.

    Menurut Agusta, program dua tahunan ini adalah bentuk komitmen pemerintah dan Kalbe Indonesia mengembangkan pengetahuan dan teknologi, serta budaya inovasi di masyarakat.

    Soal bidang, Agusta mengatakan RKSA 2016 bertumpu pada penelitian kesehatan, meliputi kajian Bahan Obat, Diagnostik dan Metode Pengobatan, serta Pangan Fungsional alias bahan makanan yang bermanfaat untuk manusia.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.