Yogyakarta Menjadi Tuan Rumah Asian Youth Day 2017

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asian Youth Day. facebook.com/asianyouthday

    Asian Youth Day. facebook.com/asianyouthday

    TEMPO.CO, Semarang - Yogyakarta dipastikan menjadi tuan rumah Asian Youth Day yang digelar pada 30 Juli-6 Agustus 2017. Kepastian pertemuan kaum muda Katolik se-Asia itu disampaikan Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia Romo Pius Riana Prapdi saat jumpa pers di Wisma Uskup Kompleks Katedral, Semarang, Selasa, 15 Maret 2016.

    “Acara itu akan dihadiri 1.500 orang dari perwakilan 29 negara Asia,” kata Pius Riana Prapdi.

    Selain mempertemukan kaum muda lintas negara di Asia, acara itu juga diikuti 1.000 kaum muda Katolik Indonesia dari berbagai pulau dan keuskupan. “Kami berjumpa suka cita memperdalam imam,” kata Pius Riana Prapdi.

    Asian Youth Day 2017 di Yogyakarta membawa tema suka-cita dalam kebhinnekaan. Acara yang diikuti para kaum muda penggiat gereja Katolik itu akan memamerkan hidup dalam kebhinnekaan, agama, budaya, dan sosial.

    Acara itu sebagai ajang perjumpaan kaum muda Katolik untuk meneguhkan dan mengimplementasikan kebhinnekaan tantangan hidup yang beragam. Menurut Pius, pertemuan itu secara khusus akan belajar memahami mempraktekkan hidup dalam kebhinnekaan, agama budaya, dan sosial di Indonesia.

    Kaum muda Katolik lintas negara di Asia itu akan berefleksi dan menemukan nilai iman serta budaya. Kegiatan yang dilakukan juga menjalin dialog berkomunikasi dengan keanekaragaman. “Dengan pertukaran itu orang muda Katolik mampu memaknai hidup dan perubahan semakin cepat,” katanya.

    Asian Youth Day 2017 yang digelar setiap tiga tahunnya ini merupakan yang ketujuh. Acara sebelumnya dilakukan di Korea Selatan pada 2014. Setelah diselenggarakan di Filipina, Hong Kong, India, Taiwan, dan Thailand.

    Ketua panitia pengarah Asian Youth Day 2017, Romo Yohanes Dwi Harsanto, agenda pertemuan kaum muda Katolik tingkat Asia itu sengaja membedah moralitas hidup keberagamaan sebagai isu utama.

    “Dalam hal ini peserta mempelajari Pancasila sebagai rule of live yang dipamerkan di forum itu,” kata Yohanes Dwi Harsanto.

    Menurut dia, perbedaan keyakinan dalam satu keluarga di Indonesia akan menjadi studi kaum muda Katolik lintas negara Asia. Ia menjelaskan, perbedaan yang ada itu justru satu kekuatan untuk membangun bangsa. “Karena kaum muda menjadi penentu bagaimana negara, gereja, dan masyarakat maju,” katanya.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.