Keluarga Terduga Teroris Ini Malah Minta Dilindungi Aparat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pelayat merangsek ke arah polisi yang sempat menghambat proses penguburan jenazah Siyono di Dukuh Brengkungan, Klaten, 13 Maret 2016. Siyono ditangkap anggota Densus 88 pada Selasa lalu dan meninggal dalam proses penyidikan pada Jumat siang. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Para pelayat merangsek ke arah polisi yang sempat menghambat proses penguburan jenazah Siyono di Dukuh Brengkungan, Klaten, 13 Maret 2016. Siyono ditangkap anggota Densus 88 pada Selasa lalu dan meninggal dalam proses penyidikan pada Jumat siang. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Klaten - Situasi yang tak biasa terjadi pada keluarga terduga teroris yang biasanya meminta perlindungan dari tekanan aparat keamanan. Keluarga  Siyono, terduga teroris yang tewas saat berada di tangan Detasemen Khusus 88 Antiteror, malah meminta perlindungan kepada Pemerintah Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dari wartawan yang berupaya meminta informasi perkembangan kasus tewasnya Siyono.

    “Beliau (ayah Siyono, Marso) datang ke sini karena merasa terusik oleh njenengan-njenengan (anda-anda), rekan-rekan pers. Beliau minta perlindungan, minta ketenangan. Cuma itu,” kata Kepala Desa Pogung, Joko Widoyo, di kantornya Senin 14 Maret 2016.

    Siyono adalah warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, yang ditangkap anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror seusai menunaikan salat Maghrib di masjid sebelah rumahnya pada Selasa 8 Maret 2016. Tiga hari kemudian, Jumat 11 Maret 2016, Siyono dikabarkan tewas setelah diciduk Densus 88. Polisi berkilah Siyono tewas setelah berkelahi dengan anggota Densus 88 yang membawanya ke satu tempat.

    Setelah kematian Siyono, orang tuanya, Marso, datang ke Balai Desa Pogung sekitar pukul 10.00 bersama dua lelaki, salah satunya Wagiyono, kakak Siyono. Marso menemui Joko Widoyo dan Kepala Kepolisian Sektor Cawas Ajun Komisaris Totok Mugiyanto dalam ruang tertutup.

    Seusai pertemuan, Marso meninggalkan Balai Desa Pogung dan menolak menemui wartawan. “Sebagai kepala desa saya bertanggung jawab. Nggak boleh (wawancara). Dia orang kampung, tidak tahu urusan apa-apa. Makanya minta perlindungan ke pemerintah desa,” kata Joko.

    Saat dihubungi wartawan, Wagiyono mengatakan keluarganya sudah mengikhlaskan kematian Siyono. “Keluarga sudah merelakan,” katanya. Keluarganya ingin kembali bermasyarakat. “Enak lagi, hidup tidak tertekan dari manapun.”

    Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Mahendradatta menduga keluarga Siyono memilih bungkam karena mendapat tekanan dari kepolisian. “Polisi, tolong transparan. Ini penegakan hukum, bukan masalah kebencian. Jangan melawan teror dengan teror,” kata Mahendradatta saat dihubungi Tempo.

    Ihwal keluarga Siyono meminta perlidungan, Kepala Kepolisian Resor Klaten Ajun Komisaris Besar Faizal mengatakan polisi akan melindungi masyarakat. “Mereka merasa sudah tidak nyaman lagi. Kalau terlalu banyak seperti itu maka keluarga meminta perlindungan ke desa dan kepolisian,” kata Faizal.

    DINDA LEO LISTY

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.