Bandara Purboyo Tak Selesaikan Masalah Wilayah Barat Daya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak di temani istrinya Arumi Bachsin berbincang dengan kepala biro Tempo Jawa Timur, Zacharias Wuragil dan sejumlah jurnalis Tempo saat berkunjung di kantor biro Tempo Jawa Timur di Surabaya, 18 Februari 2016. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak di temani istrinya Arumi Bachsin berbincang dengan kepala biro Tempo Jawa Timur, Zacharias Wuragil dan sejumlah jurnalis Tempo saat berkunjung di kantor biro Tempo Jawa Timur di Surabaya, 18 Februari 2016. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Trenggalek - Rencana pendirian dua bandar udara di Purboyo, Malang dan Kangean, Madura dinilai tidak menyelesaikan persoalan transportasi udara di wilayah barat daya Jawa Timur. Pemerintah diminta tetap membangun bandara kecil di wilayah eks-Karesidenan Kediri untuk mempercepat pembangunan ekonomi.

    Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak mengatakan rencana Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendirikan dua bandara di Purboyo, Kabupaten Malang dan Pulau Kangean di Sumenep Madura patut diapresiasi.

    Apalagi bandara yang akan didirikan di wilayah Purboyo memiliki klasifikasi bandara internasional guna mendukung keberadaan Bandara Abdul Rahman Saleh yang terbatas. “Kami mengapresiasi pendirian bandara itu,” kata Emil kepada Tempo, Senin 14 Maret 2016.

    Namun menurut dia jalur penerbangan pesawat dari Bandara Purboyo itu bukan melintasi wilayah selatan ke barat, namun belok ke timur lalu ke utara sebelum kembali melalui jalur Surabaya – Jakarta.

    Rute itu menghindari wilayah udara eks-Karesidenan Kediri yang masih terisolir jalur pesawat tempur. Sehingga bandara itu tidak menyelesaikan persoalan transportasi udara di wilayah barat daya Jawa Timur.

    Menurut Emil, para kepala daerah Trenggalek, Kediri, Tulungagung, Blitar, Nganjuk, Pacitan, dan Ponorogo harus berjuang membuka wilayah udara komersil dengan pendirian bandara berskala kecil seperti Bandara Notohadinegoro di Jember dan Bandara Blimbingsari di Banyuwangi.

    Ia berharap ada pesawat komersil yang melintasi wilayah itu untuk membantu percepatan akses transportasi dan lalu lintas barang ke luar daerah. “Ïni bisa terwujud kalau ruang udara latihan tempur dibuka sebagian kecil untuk jalur penerbangan sipil.”

    Ia yakin Gubernur Soekarwo tak ingin dikesankan tidak pro pembukaan akses Jawa Timur bagian barat daya dengan menghambat pendirian bandara di wilayah Kediri. Menurut Emil, Soekarwo hanya terkendala akses teritorial militer yang sejak beberapa bulan lalu dibahas Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI.

    Emil yakin rencana pendirian Bandara Purboyo oleh Pemerintah Provinsi tak lepas dari faktor kepemilikan lahan yang sangat luas oleh TNI Angkatan Laut.

    Karena itu pemerintah propinsi dan TNI bisa bekerja sama karena bandara itu berpotensi menjadi bandara besar. “Jadi bukan karena beliau tidak berkenan dengan eks-Karesidenan Kediri.”

    Dia juga berharap agar semua pihak untuk tak membanding-bandingkan antara Purboyo dengan eks Karesidenan Kediri mengenai rencana pendirian bandara. Skala bandara yang diinginkan pun berbeda. Emil hanya berharap pendirian bandara kecil sedangkan Purboyo didesain menjadi bandara besar.

    Gubernur Jawa Timur Soekarwo memastikan akan menambah dua bandara di Kabupaten Malang dan di Kangean, Madura. Setelah mengantongi kajian kelayakannya, Soekarwo menyatakan pemerintah pusat akan membantu pembiayaan pembangunannya.

    Menurut Soekarwo bandara Purboyo yang dibangun di lahan milik TNI AL di Kecamatan Bantur akan mengintegrasikan moda transportasi di jalur lintas selatan Jawa Timur yang diperkirakan selesai pada 2019.



    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?