Komjen Anang Iskandar, Ingin Jadi Lurah Malah Jadi Jenderal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabareskrim Komjen Pol Anang Iskandar. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Kabareskrim Komjen Pol Anang Iskandar. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Komisaris Jenderal Anang Iskandar tak pernah bermimpi menjadi petinggi di Polri. Sejak kecil, ia bermimpi menjadi lurah yang merangkap petani di kampungnya, Mojokerto, Jawa Timur.

    "Bapak saya tukang cukur. Saya cuma terbayang menjadi lurah atau petani," kata dia kepada Tempo di rumah pribadinya, Bekasi, Jawa Barat,  Minggu 14 Februari 2016.

    Keinginannya menjadi lurah merangkap petani bukan tanpa alasan. Anang ingin menjadikan para petani di kampungnya sejahtera dan makmur melalui kepemimpinannya. Caranya, dengan membentuk kelompok petani yang memiliki beberapa jenis budidaya. Selain itu, kata dia, petani juga harus mempunyai kemampuan beternak.

    "Dengan begitu, tidak ada lagi petani miskin. Mereka punya usaha lebih dari satu," ujar pria kelahiran Mojokerto, 18 Mei 1958 itu.

    Anang menceritakan sekolahnya di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) menjadi pilihan satu-satunya. Sebab, saat itu, orang tuanya tak mampu membiayai kuliah di perguruan tinggi. Padahal sebelum mendaftar di Akabri, Anang resmi diterima sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Namun, ia lebih memilih Akabri lantaran bebas biaya selama pendidikan.

    "Kalau di kuliah umum, saya harus memikirkan biayanya yang mahal. Kalau di Akabri, gratis. Saya tinggal belajar sungguh-sungguh," ujarnya.

    Karier Anang berawal setelah lulus akademi pada 1982. Langkah dia di korps Bhayangkara mulus hingga akhirnya mendapat bintang dua di pundaknya saat menjadi Kepala Kepolisian Daerah Jambi pada 2011.

    Kariernya moncer hingga dia didapuk menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional pada 2012. Dari BNN, Anang ke Markas Besar Kepolisian RI menjadi kepala badan reserse kriminal. Dia menggantikan posisi Komisaris Jenderal Budi Waseso yang ditugaskan ke BNN pada September 2015 lalu.

    Sebelum memasuki masa pensiun, bapak lima anak itu, punya keinginan untuk menjadi orang nomor satu di Trunojoyo. “Ya, ada usaha ke sana, tapi biarkan secara alamiah saja,” kata Anang.

    DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.