Kapal Nelayan Terbalik, Satu Nelayan Dompu Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kapal tenggelam

    Ilustrasi kapal tenggelam

    TEMPO.CO, Dompu - Sebuah kapal nelayan terbalik di perairan pantai wisata Hu’u, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Ahad 13 Maret 2016. Perahu nelayan itu terbalik sekitar dua mil dari pantai tempat wisatawan asing biasa melakukan selancar.

    Kapal yang diketahui berjenis pursesein mini tersebut mengangkut 7 orang nelayan, satu di antaranya ditemukan tewas dan satu lainnya hilang, serta 5 orang lainnya selamat. Korban yang meninggal dunia, yakni Sahril, 36 tahun, warga Lingkungan Samporo, Kelurahan Bali Satu, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu

    Menurut seorang anak buah kapal (ABK) yang selamat, Jainudin , 40 tahun, peristiwa terbaliknya kapal tersebut berawal saat kapal yang ditumpanginya sedang mencari ikan di perairan Hu’u. Namun saat menebar kail yang kedua kalinya, sekitar pukul 15.00 WIT, kapal mendadak miring dan akhirnya terbalik. "Kail sudah ditebar tetapi mendadak kapal terbalik, saat itu ada gelombang besar dan angin kencang," katanya.

    Ia mengatakan, terbaliknya kapal itu mengakibatkan seluruh nelayan jatuh ke laut dan berusaha menyelamatkan diri dengan meraih papan sebagai pegangan. Para nelayan juga ada yang sempat terapung selama satu jam sebelum akhirnya diselamatkan oleh kapal nelayan lain yang kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Dompu Imran M. Hasan mengatakan, bahwa pada pukul 14.30 Wita, tujuh orang warga dari Kelurahan Bali Satu menumpang satu unit perahu untuk memancing.

    Sekitar pukul 15.10 Wita terjadilah badai dan ombak yang begitu besar dan langsung menghantam perahu mereka. Saat dihantam badai, perahu tersebut kemudian terbalik dan seluruh penumpangnya kecebur ke laut.

    AKHYAR M. NUR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.