Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Warga Gelar Aksi Budaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok seni bondres 'Semeton Muda Lawak Bali' saat tampil dalam parade seni budaya 'Legian Bergerak!', 13 Maret 2016. TEMPO/Bram Setiawan

    Kelompok seni bondres 'Semeton Muda Lawak Bali' saat tampil dalam parade seni budaya 'Legian Bergerak!', 13 Maret 2016. TEMPO/Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Denpasar - Warga Desa Adat Legian yang terdiri atas tiga banjar yaitu Banjar Legian Kaja, Pekandelan, dan Legian Kelod menggelar aksi menolak reklamasi Teluk Benoa, Minggu, 13 Maret 2016.

    Aksi yang bertajuk Legian Bergerak itu diikuti oleh seluruh komponen masyarakat Legian yang dinamai Solidaritas Legian Peduli (SOLID). Klian Desa Adat Legian, I Gusti Ngurah Sudiarsa dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi ini merupakan tindak lanjut dari hasil Paruman (rapat) Samuan Tiga Agung.

    "Apakah kita tidak malu kepada anak dan cucu nanti mewarisi Bali yang tenggelam (jika reklamasi terjadi)? Kita hidup di tengah-tengah pariwisata yang sering diserbu investor. Jangan mau diadu domba, fokus kepada tujuan perjuangan," kata Sudiarsa saat orasi, di Desa Adat Legian, Kecamatan Kuta, Minggu, 13 Maret 2016.

    Aksi tersebut dimulai dari masing-masing banjar, kemudian warga bergerak menuju jaba sisi (halaman luar) Pura Agung Desa Adat Legian. Di depan Pura Agung Desa Adat Legian para muda-mudi desa setempat menampilkan tarian dan baleganjur sebagai ekpresi seni melawan rencana proyek reklamasi PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) milik Tomy Winata.

    "Kami fokus kepada aktivitas anak muda pagelaran seni, karena seni adalah pemersatu kami, dan simbol perjuangan kami tanpa melakukan cara-cara kekerasan. Kami tidak ingin filosofi Tri Hita Karana (parahyangan, pawongan, dan palemahan) diinjak-injak oleh para investor rakus," ujarnya.

    Sudiarsa menjelaskan pusat aksi dilaksanakan di depan Pura Agung Desa Adat Legian, karena selain berada persis di tengah desa. Menurut dia, juga sebagai simbol permohonan restu kepada para leluhur Desa Adat Legian untuk kelancaran aksi perjuangan warga Legian menolak reklamasi di Teluk Benoa.

    "Kami percaya di sini berstana para pendahulu (leluhur) kami dari zaman kerajaan, atau penguasa Desa Adat Legian," tuturnya.

    Dalam aksi tersebut juga diisi penampilan dari musisi-musisi asal Bali, yaitu Forum Kuta Perjuangan (FKP) Band, Relung Kaca dan Navicula. Selain itu dalam aksi ini, Semeton Muda Lawak Bali, yakni perkumpulan para pelaku seni bondres menampilkan pentas banyolan sebagai deklarasi komunitas lawak ini menyatakan sikap menolak reklamasi Teluk Benoa.

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.