Mahasiswa ITB Tewas Habis Lari, Telepon Terakhirnya ke Ortu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Aula Barat di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). TEMPO/ A. Andrian

    Gedung Aula Barat di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). TEMPO/ A. Andrian

    TEMPO.CO, Bandung - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Alfath Muhammad Farhan, 18 tahun, yang meninggal setelah tes lari lapangan Sarana Olahraga Ganesha (Saraga) ITB, Kamis, 11 Maret 2016, mengaku kurang fit sehari sebelumnya.

    Malam hari sebelum tes lari, Alfath menelpon orang tuanya untuk meminta saran, harus minum energy drink atau tidak karena enggan mengulang mata kuliah olahraga di semester lain jika tidak ikut tes. Orang tuanya keberatan dengan minuman itu.

    Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Bermawi Priyatna mengatakan, orang tua Alfath yang ditemuinya di rumah duka bercerita, saat itu anaknya disarankan untuk minum madu dan telur. Menurut rekan-rekan serumah sewaan, Alfath tidak terlihat minum energy drink. Informasi yang diperoleh Tempo di kampus ITB, Alfath kabarnya meninggal setelah minum energy drink suatu merek sebelum tes lari. 

    Dari keterangan rekan-rekannya, kata Bermawi, pada hari tes lari, Kamis, 10 Maret 2016, Alfath tampak sehat. Hanya sarapan paginya kurang dan makan siang seadanya, seperti gorengan dan minum kopi. Adapun tes lari berlangsung sore hari.

    Alfath yang menggunakan nomor dada 39 warna jingga, memulai berlari 6 putaran lapangan sepakbola bersama peserta tes kelompok pertama pada pukul 15.30 WIB. Menjelang putaran akhir sejauh 10 meter dari garis akhir sekitar pukul 15.44 WIB, Alfath memperlambat kecepatan larinya, lalu jalan sempoyongan ke pinggir trek, dan merebahkan diri di rumput lapangan. 

    Seorang kawannya melaporkan ke penguji, Nia Sri Ramania, bahwa Alfath mengeluarkan busa dari mulutnya dan kejang-kejang. Tiga orang penguji lainnya berusaha menyadarkan Alfath dengan cara menggoyangkan badan, serta memijat kaki dan tangan.

    Tak berhasil, bantuan oksigen diberikan sambil menunggu kedatangan mobil ambulan yang dikontak untuk datang. Pukul 15.59 WIB Alfath diangkut ke klinik Bumi Medika Ganesha ITB. Alfath sempat sadar sebentar kemudian kejang lagi dan mulutnya berbusa. Dalam kondisi pingsan ia dirujuk ke rumah sakit terdekat yakni Santo Borromeus.

    Tiba pukul 16.30 WIB di Instalasi Gawat Darurat, Alfath yang ditangani dokter jaga, dokter jantung, dan dokter syaraf, mengalami beberapa kali kejang. Sekitar pukul 18.00 hingga 21.30 WIB, kata Bermawi, Alfath siuman dan berbincang dengan orang tuanya yang datang setelah dikabari rekan Alfath ketika ambruk di lapangan. Sejauh ini, pihak ITB dan keluarga belum mengetahui jelas penyebab meninggalnya Alfath dan berupaya meminta keterangan dari rumah sakit.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.