Tanggapan Keluarga Guru Honorer Soal SMS ke Menteri Yuddy  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Menteri pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Brebes - Keluarga Mashudi, 38 tahun, guru honorer dari Brebes yang mengirim pesan ancaman kepada Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Yuddy Chrisnandi, angkat bicara. Keluarga menyayangkan pemberitaan yang beredar soal Mashudi terkesan setengah-setengah.

    "Kenapa yang ditunjukkan ke media hanya yang kasar saja. Padahal itu adalah hanya satu dari rentetan sms kepada menteri," ujar Muhammad Subkhan, paman Mashudi, Kamis, 10 Maret 2016.

    Baca: Menteri Yuddy Maafkan Guru Honorer Peneror via SMS

    Adapun bunyi SMS teror yang dimaksud adalah: "A** yudi go*** jadi menpan rusak, kami bisa hilang kesabaran tak bantai nt dan keluargamu ! hati2 ini akan jd kenyataan". Pesan itu dikirim oleh nomor 087730837371, yang diduga milik Mashudi, langsung ke nomor telepon seluler pribadi milik Yuddy.

    Menurut Subkhan, sebelum Mashudi mengirim SMS bernada ancaman, nomor yang diduga milik Menteri Yuddy itu sempat membalas dan menuduh Mashudi sebagai calo pegawai negeri sipil. "Siapa yang tidak marah kalau dituduh seperti itu," kata Subkhan. Namun, dia tidak bisa menunjukkan SMS tersebut karena telepon seluler Mashudi disita polisi.

    Mashudi, warga Desa Luwung Gede Kecamatan Larangan, merupakan guru honorer yang mengajar di SMA Negeri 1 Ketanggungan, Brebes. Dia juga mengajar di SMK Bisma Kecamatan Kersana Brebes. Sebagai guru honorer dia telah mengabdi selama 16 tahun. Selama itu pula, dia selalu memperjuangkan kesejahteraan  guru yang senasib dengannya.

    Selama mengabdi, kata Subkhan, Mashudi tidak pernah menunjukan perilaku aneh. Namun dia mengakui semangat Mashudi selalu meledak-ledak ketika disinggung kesejahteraan guru honorer. Dia juga dikenal paling vokal di antara guru-guru honorer di Brebes. “Intinya dari keluarga berharap kebijaksanaan Pak Menteri untuk mencabut laporan ke Polisi,” katanya.

    Dia beralasan, tindakan Mashudi saat mengirim SMS ke Menteri Yuddy merupakan emosi sesaat. “Jadi SMS bernada ancaman itu SMS yang terakhir. Itu mungkin sudah puncak emosi dia,” ujarnya.

    Baca: Polisi Tangguhkan Penahanan Mashudi, Peneror Menteri Yuddy

    Salah seorang guru SMK Bisma Kersana yang juga rekan Mashudi, Nasroni, mengaku mengenal baik pribadi Mashudi.  "Dia (Mashudi) kan di sini hanya guru terbang, jadi di sini untuk mengisi jam yang kosong," katanya. Selama mengajar, lanjut dia, Mashudi dikenal aktif dan tidak pernah menununjukkan gelagat aneh.

    Subkhan mengatakan, istri Mashudi, Eka Kurniasih, 35 tahun, langsung menutup diri begitu suaminya dijemput polisi pada Kamis, 3 Maret 2016. Kurniasih juga tidak bersedia memberi keterangan kepada awak media. Saat ini, istri dan anaknya sedang berada di Jakarta di rumah kerabatnya.

    Mashudi ditangkap pada Kamis, 3 Maret 2016. Polisi bergerak setelah mendapatkan laporan dari sekretaris pribadi Menteri Yuddy, Reza Fahlevi, dengan laporan polisi nomor LP/942/II/2016/PMJ tertanggal 28 Februari 2016.

    Polisi mengamankan barang bukti berupa satu telepon genggam merek Cross serta dua SIM card XL dan Indosat. Dalam perkara ini, Mashudi dijerat Pasal 29 dan/atau Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 335, Pasal 336, dan/atau Pasal 310/311 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.