Petani Brebes Blokade Jalan Tol Pejagan-Pemalang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga melintas menggunakan sepeda di  jalan Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur. Selain membahayakan perjalanan pemudik, debu yang tebal dapat mengakibatkan gangguan pernafasan. Jawa Tengah, 15 Juli 2015.  TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Seorang warga melintas menggunakan sepeda di jalan Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur. Selain membahayakan perjalanan pemudik, debu yang tebal dapat mengakibatkan gangguan pernafasan. Jawa Tengah, 15 Juli 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Brebes - Ratusan petani di Brebes, Jawa Tengah, menggelar protes di jalan tol Pejagan-Pemalang, Kamis 10 Maret 2016. Mereka mendesak PT. Pejagan Pemalang Toll Road (PPTR), pembangun jalan tol itu, membuka akses jalan bagi petani Desa Sigentong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, yang tertutup proyek tol.

    Dalam aksi itu petani melakukan iring-iringan mobil pikap dan sepeda motor dari Kantor Desa Sigentong menuju jalur jalan milik tani yang dilintasi jalan tol. Mereka membawa spanduk dan poster berisi desakan kepada pelaksana proyek tol. Petani juga sempat memblokade jalan tol dengan menanamkan bambu. Akibatnya aktivitas kerja proyek terhenti. Massa sempat bersitegang dengan aparat kepolisian. Setelah negosiasi panjang, petani akhirnya membuka blokade.


    Jalur jalan milik petani itu berada di areal persawahan melintang dari selatan ke utara. Sementara jalur tol Pejagan-Pemalang melintas dari timur ke barat memotong jalur jalan tani. Otomatis, jalur petani terputus.


    Koordinator lapangan, Fuad Sirajuddin Yahya, mengatakan  tertutupnya jalan itu membuat akses usaha tani terputus. Petani harus berputar lebih jauh sekitar 30 kilometer. "Jalan usaha tani itu sudah ada dari dulu. Kalau terputus petani lewat mana," ujar Fuad.


    Dia mengatakan petani sebenarnya sudah minta PT PPTR membuka jalur jalan mereka enam bulan lalu. Petani juga sudah meminta bantuan pemerintah kabupaten menyelesaikan masalah ini. Tapi hingga kini belum ada titik temu. "Kami hanya minta untuk dibuatkan terowongan di bawah tol, agar aktivitas petani kembali lancar," katanya.


    Sementara itu, Raswid, 45 tahun, petani setempat, mengatakan jalur jalan petani selebar tiga meter itu biasa dipakai untuk membawa hasil panen. Ada sekitar 50 hektare milik 200 warga Sigentong yang tertutup jalan tol. "Padahal sebentar lagi mau panen." kata sekretaris gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sumber Rejeki, Desa Sigentong itu.


    Dia menambahkan, petani mendesak pelaksana proyek tol untuk membuat terowongan di bawah tol dengan ukuran lebar 3 meter tinggi 2,5 meter. "Paling tidak bisa untuk lewat sepeda motor roda tiga," katanya.


    Hingga berita ini ditulis, PT PPTR belum ada yang bisa dihubungi. Namun, Bupati Brebes, Idza Priyanti, saat bertemu dengan petani Sigentong, Rabu 9 Maret 2016, sempat menghubungi penanggung jawab PT PPTR Mulya Setiawan lewat telpon. Dalam pembicaraannya, PPTR berjanji segera  merealisasikan permintaan petani. PPTR juga bersedia menemui petani Sigentong pada Kamis sore 10 Maret 2016, di Kantor Kecamatan Wanasari.



    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?