Lahir Sehat, Berat Cucu Pertama Jokowi 3,09 Kilogram

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka (ketiga kanan), didampingi Ibu Negara, Iriana Joko Widodo (kedua kanan), serta tim dokter Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo memberikan keterangan pers mengenai kelahiran cucu pertama keluarga Presiden Jokowi di aula RS PKU Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah, 10 Maret 2016. ANTARA/Maulana Surya

    Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka (ketiga kanan), didampingi Ibu Negara, Iriana Joko Widodo (kedua kanan), serta tim dokter Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo memberikan keterangan pers mengenai kelahiran cucu pertama keluarga Presiden Jokowi di aula RS PKU Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah, 10 Maret 2016. ANTARA/Maulana Surya

    TEMPO.CO, Solo - Kabar bahagia datang dari keluarga Presiden Joko Widodo. Menantu Jokowi, Selvi Ananda, baru saja melahirkan bayi laki-laki di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Solo.

    "Tadi lahir pukul 09.28 WIB," kata Gibran Rakabuming Raka, anak pertama Jokowi, kepada wartawan di aula RS PKU Muhammadiyah, Kamis, 10 Maret 2016. Menurut dia, proses kelahiran anaknya berjalan dengan cepat dan cukup lancar.

    Cucu pertama Jokowi itu berjenis kelamin laki-laki. Bayi tersebut memiliki berat 3,09 kilogram dan panjang 48 centimeter. "Ibu dan bayinya sehat," ucap Gibran.

    Dalam jumpa pers tersebut, Gibran didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Selain itu, dia didampingi tim medis dari rumah sakit tersebut. Menurut Iriana, proses kelahiran cucu pertamanya sangat cepat.

    Gibran menikah dengan Selvi pada 11 Juni tahun lalu. Pernikahan mereka digelar di Grha Saba buana, gedung pertemuan milik keluarga Jokowi.

    Selanjutnya, pada Desember lalu, keluarga Jokowi menggelar acara tingkeban atau mitoni. Upacara itu digelar untuk menyambut usia 7 bulan kehamilan Selvi.

    AHMAD RAFIQ



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.