Bagaimana Gerhana Matahari di Mata Anak-anak?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak menggunakan kacamata gerhana buatan sendiri saat melihat Gerhana matahari total (GMT) di Lapangan Desa Kalora, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 9 Maret 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    Seorang anak menggunakan kacamata gerhana buatan sendiri saat melihat Gerhana matahari total (GMT) di Lapangan Desa Kalora, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 9 Maret 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak senang bisa 'menikmati' secara penuh fenomena alam gerhana matahari, Kamis 9 Maret 2016. Ini seperti yang terjadi di Masjid Al Akbar Surabaya, Jawa Timur.

    Mereka sabar mengantre untuk bergantian mengintip lewat satu unit teleskop yang memang disediakan di sana khusus untuk anak-anak. "Mataharinya hitam terus ada cekungan merah,” kata Chaca, 11, seorang diantaranya, melukiskan apa yang dilihatnya lewat teleskop itu.

    Ada juga Arif, 6, yang asik dengan kacamata khusus yang dibagikan panitia setempat. "Iya, bagus mataharinya," katanya dari balik kacamatanya itu.

    Sementara anak-anak ramai mengamati matahari, orang tua mereka sibuk mengabadikan dengan kamera di gawainya masing-masing. Jadilah pengamatan dilakukan dengan berbagai gaya.

    (Lihat Video Dua Gempa Terjadi Saat Peristiwa Gerhana Matahari)

    Bukan cuma anak-anak, antusiasme masyarakat umum yang ingin menyaksikan gerhana matahari secara langsung dan bersama-sama cukup tinggi. Ada lebih dari dua ribu orang berhimpun sehingga sempat membuat kemacetan lalu lintas hingga radius sekitar dua kilometer dari masjid.

    Mereka ada yang berada di dalam masjid dan turut dalam salat gerhana, ada pula yang memilih di pelataran di dalam dan luar lingkungan masjid. Mereka bukan cuma warga Surabaya, tapi juga ada yang datang dari Sidoarjo dan Malang.

    Sebagian besar dari mereka berharap mendapatkan pembagian kaca mata khusus ataupun menikmati gerhana lewat layar lebar, namun sayang tak terpenuhi. Ini sempat membuat beberapa warga kecewa, dan bahkan marah, karena sudah telanjur antre.

    (Lihat Video Kunjungan Membludak, Streaming Gerhana Matahari di BMKG Tersendat)

    Juru bicara Masjid Al Akbar Surabaya, Helmi, memperkirakan ada hingga 30 ribu pengunjung memadati masjid Al Akbar sepanjang Kamis pagi ini. Sehingga, lanjut dia, wajar jika kaca mata tidak semua kebagian kaca mata. “Sebagian juga sudah dibagikan kemarin,” ujar Helmi.

    Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf yang hadir dalam pengamatan bersama itu meminta maaf karena tidak semua pengunjung mendapatkan kacamata khusus. “Tadinya, mau pesan 2.000, tapi belum terpenuhi ternyata,” kata dia.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.