Warga 285 Desa di Lamongan Buang Air Besar di Bengawan Solo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang antre untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo dengan menggunakan perahu tambang di Desa Trucuk, Kec. Trucuk, Bojonegoro, Jatim, Rabu (25/4). ANTARA/Aguk Sudarmojo

    Sejumlah penumpang antre untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo dengan menggunakan perahu tambang di Desa Trucuk, Kec. Trucuk, Bojonegoro, Jatim, Rabu (25/4). ANTARA/Aguk Sudarmojo

    TEMPO.CO, Lamongan - Warga yang tinggal di 285 desa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur masih buang air besar sembarangan (BABS). "Tahun ini, program kesehatan di desa harus jalan,” ujar Bupati Lamongan Fadeli pada pencanangan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polisi di Kecamatan Kembangbahu, Lamongan, Selasa 8 Maret 2016.

    Penduduk yang melakukan praktik itu sangat besar karena Lamongan memiliki 474 desa/kelurahan di 27 kecamatan.  Fadeli mengakui baru 189 desa/kelurahan atau total 474 kesa/kelurahan yang warganya membuang kotoran dengan tertib.

    Pemerintah, katanya, akan melakukan strategi yang terstruktur dan memberikan beberapa penyuluhan, pelatihan dan penyasaran akan pentingnya hidup sehat di desa-desa di Lamongan.

    Sebaran daerah yang berstatus BABS, terutama di kecamatan-kecamatan yang dilalui Sungai Bengawan Solo, Sungai Bengawan Jero dan Kali Lamongan. Antara lain di Kecamatan Laren, Maduran, Sekaran, Babat, Karanggeneng dan Kalitengah. Daerah tersebut, selain dilewati sungai besar, juga banyak terdapat tambak ikan serta areal persawahan.

    Bupati Fadeli juga meminta Dinas Kesehatan Lamongan melanjutkan program menekan angka kematian ibu saat melahirkan. Data saat ini, angkanya 74,23 per 100 ribu kelahiran, atau sudah di atas Jawa Timur yang angkanya 89,6 per 100 kelahiran.

    Sedangkan Angka Kematian Bayi di Lamongan sebesar 6,22 per 100 ribu kelahiran hidup atau di bawah angka Jawa timur sebesar 8,7 per 100 ribu kelahiran hidup. “Makanya program imunisasi polio, jadi penting,” papar Bupati. Dia menyebutkan, Ibu-ibu yang memiliki bayi usia 0 hingga 59 bulan agar membawa ke Pos PIN untuk diimunisasi polio, dan campak.

    Data di Dinas Kesehatan Lamongan menyebutkan, jumlah bayi yang ditargetkan menerima imunisasi gratis sebanyak 83.391 anak. Ujung tombak program ini, yaitu di Pusat Kesehatan Masyarakat di 27 Kecamatan di Lamongan dan juga di pos-pos pembantu di desa/kelurahan.

    Program ini bagian dari gerakan mempertahankan status Indonesia yang sudah memperoleh sertifikat bebas polio dari WHO sejak Maret 2014. “Jadi, sosialisasi langsung ke masyarakat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Lamongan Fida Nuraida lewat pesan pendek pada Tempo Selasa 8 Maret 2016. Dia menyebutkan, pekan PIN dilaksanakan di 1915 tempat dari tanggal 8 hingga 15 Maret 2016.

    SUJATMIKO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?