Purwakarta Gratiskan Transfusi Darah Penderita Talasemia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, bersama Restu, bocah penderita talasemia dan ibunya, Tuti, menyatakan menggratiskan biaya transfusi darah bagi keluarga kurang mampu di Purwakarta, 8 Maret 2016. TEMPO/Nanang Sutisna

    Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, bersama Restu, bocah penderita talasemia dan ibunya, Tuti, menyatakan menggratiskan biaya transfusi darah bagi keluarga kurang mampu di Purwakarta, 8 Maret 2016. TEMPO/Nanang Sutisna

    TEMPO.CO, Purwakarta - Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menggratiskan biaya transfusi darah buat anak-anak penderita talasemia yang berasal dari keluarga miskin.

    "Buat keluarga yang berpenghasilan Rp 4 juta ke bawah per bulan, kami gratiskan," kata Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi kepada Tempo, Selasa pagi, 8 Maret 2016.

    Pada tahap awal, Dedi mengungkapkan, anggaran buat para penderita talasemia tersebut dialokasikan Rp 500 juta. Hingga saat ini penderita talasemia secara konkrit masih belum terdata. Itu sebabnya, anggaran tersebut masih bersifat sementara.

    Dedi mengatakan  para penderita talasemia sangat bergantung pada transfusi darah selama hidupnya. Beban biaya transfusi yang  harus dipikul keluarga sangat memberatkan. Apalagi anak-anak penderita talasemia tersebut kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu.

    Pemkab Purwakarta juga sudah menempatkan sejumlah dokter ahli penyakit itu, termasuk semua fasilitasnya di rumah sakit Bayu Asih. "Sehingga, semua pasien talasemia sudah bisa berobat secara penuh di rumah sakit Bayu Asih," tutur dia.

    Di sela-sela kesibukannya, bertempat di rumah sakit Bayu Asih, Dedi menerima kunjungan seorang pasien talasemia, Restu, anak balita pasangan Nakim dan Tuti, warga Desa Cinangka, Kecamatan Bungursari. Tuti, mengaku kewalahan membiayai transfusi darah anaknya tersebut ke rumah sakit Hasan sadikin. "Karena di Bayu Asih waktu itu belum ada persediaan darah khusus dan peralatannya, jadi, Restu rutin berobat ke Bandung," katanya.

    Setelah mendapat jaminan dari Dedi bahwa biaya pengobatan transfusi darah anaknya digratiskan, Tuti langsung mengucap syukur. "Alhamdulilah, kami benar-benar tertolong," ujarnya. Apalagi, pengobatannya bisa langsung dilakukan di rumah sakit Bayu Asih.

    Direktur Utama RSUD Bayu Asih, Agung Darwis mengatakan sudah memiliki catatan khusus ihwal jumlah pasien talasemia yang rutin berobat ke rumah sakit pelat merah itu. "Untuk sementara jumlah yang tercover sebanyak 98 pasien," ujarnya.

    Dari jumlah sebanyak itu, pasien yang melakukan pengobatan rawat jalan sebanyak 34 orang, 41 pasien rawat inap dan 23 lainnya pasien rawat darurat. Sejauh ini, perawatan yang dilakukan pihak rumah sakit Bayu Asih baru mencapai 98 persen.

    "Beberapa bulan ke depan, insya Allah sudah bisa melakukan tindakan 100 persen," ujar Agung, seraya menyebutkan mayoritas penderita talasemia anak-anak usia dini.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...