Didemo Ormas Islam, Yayasan Mojopahit Bantah Fasilitasi WTS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) berkonvoi mensosialisasikan pelarangan beredarnya minuman keras, penutupan tempat hiburan malam selama bulan puasa di sepanjang ruas jalan protokol di Makassar  (5/7). TEMPO/Fahmi Ali

    Massa yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) berkonvoi mensosialisasikan pelarangan beredarnya minuman keras, penutupan tempat hiburan malam selama bulan puasa di sepanjang ruas jalan protokol di Makassar (5/7). TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Mojokerto - Ketua Yayasan Mojopahit Teguh Starianto membantah tudingan Forum Umat Islam bahwa permukiman Balong Cangkring di Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, yang dia kelola merupakan tempat prostitusi. "Sudah berulang kali saya katakan jika ini bukan  tempat prostitusi, tapi di sini tempat pembinaan, yang juga di dalamnya membina WTS (wanita tuna susila)," kata Teguh, Selasa, 8 Maret 2016.

    Sebelumnya ratusan massa Forum Umat Islam  yang terdiri dari Front Pembela Islam  dan Jema'ah Ansharusy Syari'ah Mudiriyah  Mojokerto berunjuk rasa di Balong Cangkring. Pengunjuk rasa sempat baku hantam dengan seorang pendukung permukiman yang diduga preman lokalisasi.

    Melihat gelagat unjuk rasa akan memanas, sejak awal aparat Kepolisian Resor Mojokerto Kota dan Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Mojokerto telah bersiaga di lokasi untuk memisahkan dua kelompok massa yang saling berhadapan. Pengunjuk rasa menuntut Balong Cangkring ditutup karena diduga sudah lama jadi tempat prostitusi.

    Namun tudingan itu ditampik Teguh. "Tidak ada prostitusi, tapi yang ada adalah pembinaan dan rehabilitasi para wanita tuna susila," kata dia.

    Menurut Teguh bekas wanita tuna susila binaan itu  sudah kembali ke rumahnya masing-masing sejak 8 Februari 2016. "Mereka pulang atas kesadaran sendiri agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Mereka takut," ujarnya.

    Menurut Teguh, bentuk pembinaan yang selama ini dilakukan antara lain pelatihan menjahit, memasak, dan kegiatan spiritual. Ia  mengklaim program pembinaan didanai secara mandiri oleh Yayasan Mojopahit.

    Kawasan Balong Cangkring yang sudah dikelola puluhan tahun oleh Yayasan Mojopahit itu sedianya menjadi tempat tinggal dan rehabilitasi penyandang masalah kesejahteraan sosial  seperti gelandangan, anak jalanan, pemulung, pengemis dan lanjut usia.

    Teguh menuturkan telah berkirim surat ke Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Wali Kota Mojokerto Mas'ud Yunus soal rencana pemerintah daerah menutup Balong Cangkring pada Mei tahun ini. "Dalam surat kami jelaskan bahwa Balong Cangkring bukan tempat postitusi tapi pembinaan," ujarnya.

    Menurutnya, Balong Cangkring telah dikelola Yayasan Mojopahit sejak 1969. Kawasan itu menempati lahan 5 hektare milik perorangan. Ia membantah telah ada kesepakatan dengan Pemerintah Kota Mojokerto untuk mengubah permukiman menjadi pasar tradisional. "Jika beralih menjadi pasar tradisional harus ada persetujuan dari ahli waris. Jika ahli waris tidak menjual itu hak ahli waris," katanya.

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.