Sekretaris MA Diperiksa 9 Jam, Tak Ditanya Soal Suap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nurhadi. TEMPO/Subekti

    Nurhadi. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi selama lebih dari 9 jam. Tiba di Gedung KPK pada pukul 10.00 WIB, Selasa 8 Maret 2016, Nurhadi baru keluar gedung sekitar pukul 20.00 WIB.

    Kepada media, Nurhadi mengatakan tak ditanya soal suap menyuap oleh penyidik. "Nggak, sama sekali nggak ditanya," kata dia usai pemeriksaan. Nurhadi pun mengaku tak terlibat dalam kasus ini. "Clear, tanya saja."

    Nurhadi menjelaskan, selama berjam-jam di ruang penyidik, ia hanya ditanya seputar tugas pejabat-pejabat di Mahkamah Agung, seperti Sekretaris dan Direktur Jenderal Peradilan Umum. "Juga ditanya apa tugas Kasubdit si Andri itu," kata Nurhadi  usai pemeriksaan.

    Pertanyaan selanjutnya, kata Nurhadi, adalah seputar gaji mulai tahun 2012 akhir. "Per bulan gajinya berapa, tunjangannya apa saja, kemudian renumerasi dan uang makan, ya itu saja," ucap dia.

    Nurhadi  menyebutkan, untuk renumerasi pejabat MA mendapat Rp 12 juta gaji bersih dengan gaji pokok Rp 5 juta dan uang makan Rp 500 ribu. Sehingga total mencapai sekitar Rp 17,5 juta.

    Hari ini, KPK memeriksa Nurhadi terkait dengan kasus suap di tubuh Mahkamah Agung. Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Andri Tristianto Sutrisna, Kepala Sub Direktorat Kasasi dan Peninjauan Kembali Perdata Khusus PK MA.

    Selain itu, Komisi Pemberantasan Korupsi juga menjadwalkan pemeriksaan untuk tiga karyawan PT Citra Gading Asritama. Mereka adalah Arif Lestariyanto sebagai Manager AMP, Triyanto, karyawan, dan Syukur Mursid Brotosejati alias Heri sebagai wiraswasta.

    Andri Tristianto Sutrisna ditangkap KPK pada Jumat, 11 Februari 2016. Ia ditangkap dalam operasi tangkap rangan. Andri diduga menerima suap sebesar Rp 400 juta dari Direktur PT Citra Gading Asritama, Ichsan Suadi. Suap tersebut diduga untuk menunda salinan putusan kasasi atas Ichsan Suadi sebagai terdakwa. Keduanya ditangkap KPK di tempat berbeda dan kini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

    Selain mereka, KPK menangkap empat orang lainnya. Mereka adalah pengacara Ichsan, Awang Lazuardi Embat; seorang sopir yang bekerja pada Ichsan; dan dua petugas keamanan yang bekerja pada Andri. Awang Lazuardi turut ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Sedangkan tiga lainnya masih sebagai saksi.

    Andri sebagai penerima suap diancam Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 huruf a atau b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi. Sedangkan Ichsan dan Awang disangkakan melanggar Pasal 5 huruf a atau b atau Pasal 13 huruf a atau b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.