Menyikapi Pariwisata dan Teknologi Informasi

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Semua karya, apa pun itu dan dari mana asalnya, harus karya yang baik dan bermanfaat untuk negara dan rakyat Indonesia.

    Semua karya, apa pun itu dan dari mana asalnya, harus karya yang baik dan bermanfaat untuk negara dan rakyat Indonesia.

    INFO MPR - Menyikapi kondisi pariwisata Indonesia dan perkembangan teknologi informasi, Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta membuka ruang diskusi dengan Duta Besar RI untuk Polandia, Peter F. Gontha. Diskusi berlangsung pada Senin, 7 Maret 2016, di Ruang Kerja Wakil Ketua MPR RI, Senayan, Jakarta.

    Kedatangan Peter F. Gontha, yang juga pengusaha di bidang IT itu, didampingi dua pengusaha muda Ukraina yang bergerak di bidang IT. Di awal diskusi, Peter Gontha mengeluarkan isi hatinya soal dunia pariwisata Indonesia yang menurut dia masih terkesan jalan di tempat.

    "Selama ini konsep dalam menjual Indonesia kurang tepat. Kita kebanyakan menjual kultur yang sebenarnya tidak laku di dunia luar. Tingkat kenaikan wisatawan luar negeri karena kultur Indonesia sangat sedikit. Kita semestinya harus mengubah konsep promosi tersebut. Itu harus dilakukan,” ujarnya.

    Perubahan konsep promosi wisata di Indonesia, menurut Gontha, adalah dengan konsep modernitas. “Amerika Serikat tidak menjual kulturnya, tapi modernitas, seperti gemerlap Las Vegas dengan perjudiannya, gemerlap Holywood. Lalu Singapura, yang dijual bukan kultur, melainkan pusat belanja, merek-merek produk terkenal, semua tentang modernitas,” tegasnya. Sedangkan biaya yang dikeluarkan Indonesia untuk mempromosikan kultur tidak sebanding dengan hasil yang diraih.

    Menyoal perkembangan IT, dua pengusaha muda asal Ukraina yang mendampingi Gontha merupakan founder dan CEO Finspi, media sosial seperti Facebook dengan konsep baru. Pendiri sekaligus CEO Finspi, Jack Mashtakov, mengatakan media sosial baru ini dibuat murni sebagai hiburan dan aman.

    Oleh Gontha mereka berdua diajak untuk mengembangkan media sosial ini di Indonesia. “Hal ini sangat berpotensi dan menguntungkan Indonesia jika mereka mau mengembangkan teknologi mereka di Indonesia, dan saya berhasil menegosiasikan dan membujuk mereka untuk mengembangkannya di Indonesia,” ujar Peter.

    Menanggapi hal tersebut, Oesman Sapta berpesan supaya mereka harus terbuka jika ingin mengembangkan karya mereka di Indonesia. “Tidak ada data yang ditutupi,” tegasnya. Lebih lanjut, wakil rakyat dari Kalimantan Barat ini menegaskan semua karya, apa pun itu dan dari mana asalnya, harus karya yang baik dan bermanfaat untuk negara dan rakyat Indonesia. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?