Gerhana Matahari, Pondok Pesantren Ini Kerahkan 4 Teropong  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis mengenakan kacamata pengamatan Gerhana Matahari dalam sosialisasi di Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, 7 Maret 2015. Sosialisasi ini bertujuan agar warga yang ingin mengamati gerhana matahari tidak mengalami kerusakan organ mata karena tidak menggunakan pelindung. ANTARA/Maulana Surya

    Aktivis mengenakan kacamata pengamatan Gerhana Matahari dalam sosialisasi di Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, 7 Maret 2015. Sosialisasi ini bertujuan agar warga yang ingin mengamati gerhana matahari tidak mengalami kerusakan organ mata karena tidak menggunakan pelindung. ANTARA/Maulana Surya

    TEMPO.CO, Surakarta - Santri Pondok Pesantren Modern Assalam mempersiapkan pengamatan terhadap fenomena alam gerhana matahari pada Rabu, 9 Maret 2016. Mereka juga mengajak masyarakat umum untuk ikut melakukan pengamatan di observatorium yang mereka miliki.

    Santri yang tergabung dalam Club Astronomi Santri Assalam (CASA) itu akan mengerahkan sejumlah teropong untuk pengamatan. "Kami akan menggunakan sekitar empat teropong," kata pengasuh CASA, A.R. Sugeng Riyadi.

    Salah satu teropong akan dilengkapi dengan peralatan perekam. "Observatorium kami menjadi bagian dari streaming nasional," kata Sugeng. Hasilnya akan diintegrasikan dengan pengamatan milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

    Menurut Sugeng, Solo sebenarnya tidak termasuk daerah yang mengalami gerhana matahari total. "Matahari tertutup bulan sekitar 83 persen," kata dia. Meski demikian, fenomena itu cukup langka sehingga menarik untuk diamati.

    Di Solo, proses gerhana matahari terjadi sejak 06.20 WIB dan berakhir pada 08.36 WIB. Sedangkan puncak gerhana matahari akan terjadi pada 07.24 WIB. "Masyarakat yang berminat bisa melakukan pengamatan bersama di observatorium kami," katanya.

    Selain teropong, pihaknya menyediakan kacamata khusus yang aman untuk digunakan melihat matahari. "Pengunjung juga bisa menyaksikan melalui layar monitor yang kami sediakan," katanya.

    Menurut Sugeng, masyarakat harus mendapatkan edukasi yang benar mengenai gerhana matahari. "Ini peristiwa langka yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup," katanya. Masyarakat juga tidak perlu takut untuk beraktivitas di luar rumah saat gerhana terjadi.

    Hanya saja, dia meminta masyarakat Solo tidak melihat matahari secara langsung tanpa peralatan pengaman. Sebab, Solo hanya dilalui gerhana matahari sebagian. "Bukan hanya saat gerhana, menatap matahari secara langsung bisa merusak retina," katanya.

    Pesantren yang berada di Sukoharjo tersebut memang memiliki observatorium yang memiliki peralatan cukup lengkap. Observatorium itu dilengkapi kubah yang bisa berputar dengan sistem elektronik.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.