Lamborghini Maut, Wiyang Dicecar Hakim soal Kecepatan Mobil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka dari kecelakaan Lamborghini, Wiyang Lautner usai menjalani perawatan di ruang Teratai 9 RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, 5 Desember 2015. ANTARA FOTO

    Tersangka dari kecelakaan Lamborghini, Wiyang Lautner usai menjalani perawatan di ruang Teratai 9 RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, 5 Desember 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Surabaya - Wiyang Lautner, 24, kembali menjalani persidangan ihwal kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dia sebagai pengemudi Lamborghini di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin, 7 Maret 2016.

    Ditemani ibu dan kakaknya, Wiyang membeberkan keterangan perihal kasusnya. Sore itu, Wiyang masuk ruang persidangan dengan mengenakan baju batik dan tangan diborgol bersama petugas pengadilan. Terlihat lebih segar dari persidangan sebelumnya, Wiyang menyapa ibu dan kuasa hukumnya.

    Dalam persidangan, sempat disampaikan wejangan dari Majelis Hakim Burhanudin, Mangapul Gersang, dan Dedi Ferdiman buat terdakwa Wiyang. Ketiga hakim juga mencecar Wiyang ketika memberi keterangan soal kecepatan mobil yang dikendarainya itu.

    Awalnya, Wiyang mengaku kecepatan mobilnya pada waktu itu hanya 50 kilometer per jam. Sedangkan Aiptu Andik Suroso, anggota laka lantas dari unit TAA (Traffic Accident Analysis) Satuan Lalu Lintas Polda Jawa Timur, memberi keterangan kecepatan Lamborghini saat itu adalah 95,2 kilometer per jam. Hakim kemudian meminta Wiyang tidak berbohong dalam persidangan.

    “Pada waktu itu, saya tidak melihat spidometer. Saya melakukan seperti biasa,” ujar Wiyang menjawab pertanyaan Hakim Mangapul Gersang.

    Wiyang juga membantah keterangan ahli soal kecepatan mobilnya kala itu dengan berkilah kecepatan Lamborghini-nya diukur ahli pada jalan yang datar. Sedangkan pada waktu itu, dia mengendarai Lamborghini pada jalan yang licin dan bergelombang. Wiyang menceritakan dia sempat oleng karena kondisi jalanan tersebut. "Saya oleng juga karena menghindari scone chip,” tutur Wiyang.

    Adapun Lamborghini Gallardo, yang dikemudikan Wiyang, menabrak warung susu, telur, madu, dan jahe (STMJ) di Jalan Manyar Kertoarjo, Surabaya, pada Minggu, 29 November 2015, pukul 05.20 WIB. Sejumlah saksi menyebutkan Lamborghini itu terlibat aksi kebut-kebutan dengan mobil Ferrari sebelum kecelakaan terjadi.

    Akibat tabrakan tersebut, Kuswanto, 51 tahun, yang sedang membeli STMJ, meninggal. Istrinya, Srikanti (41) dan penjual STMJ, Mujianto (44), luka-luka. Jaksa penuntut umum, Ferry E. Rachman, mendakwa Wiyang melanggar Pasal 310 ayat 1, 3, dan 4 Undang-Undang Angkutan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan karena dinilai lalai sehingga mengakibatkan satu korban tewas dan dua luka-luka. Ancaman hukuman atas pelanggaran pasal itu adalah penjara enam tahun dan denda Rp 12 juta.

    Pemuda yang mengaku pernah mengemudi Lamborghini di Sirkuit Sentul ini mengaku pagi itu dia akan berangkat kumpul bersama teman-temannya di daerah Lend Mark. Teman-temannya, kata Wiyang, juga anggota komunitas pengguna Lamborghini. Namun pada hari nahas itu dia mengaku, “Saya tidak kebut-kebutan,” ujar Wiyang kepada Tempo.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.