FEATURE: Semarak Kota-kota Menyambut Gerhana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peta Gerhana Matahari Total di wilayah Indonesia, pada 9 Maret 2016. rainbow-scuba.com

    Peta Gerhana Matahari Total di wilayah Indonesia, pada 9 Maret 2016. rainbow-scuba.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Lapangan Ngara Lamo di kompleks Kesultanan Ternate, Maluku Utara, tampak meriah, Rabu siang, pekan lalu. Dari kejauhan, sudah terdengar riuh rendah sorak-sorai masyarakat. Warga memang tengah berkumpul. Mereka berdiri berjejalan di sisi timur dan barat lapangan. Saat itu, sinar matahari sedang terik-teriknya.

    Warga Ternate memang pantas bergembira pada hari itu. Mereka merayakan pembukaan Festival Legu Gam, yang berlangsung hingga 19 Maret mendatang. Pelbagai pertunjukan tari mengisi perayaan tersebut. Warga Ternate ikut memeriahkan acara dengan menjual cenderamata dan hasil bumi di bawah puluhan tenda berukuran 4 x 4 meter yang berjajar di pinggir lapangan.

    Burhan Abdurahman, Wali Kota Ternate, mengatakan Festival Legu Gam semula memang digelar untuk memperingati kelahiran sultan dan memaknai kemajemukan etnis. Namun, sejak sultan mangkat, festival itu menjadi pesta rakyat Ternate. Jadwal penyelenggaraan pun sedianya setiap April. “Kebetulan tahun ini bersamaan dengan datangnya gerhana, sehingga perayaan digelar sebulan lebih awal,” kata Burhan.

    Pesona gerhana matahari total kali ini memang sungguh memikat. Terakhir kali peristiwa itu terjadi di Indonesia pada 1983. Sayangnya, pemerintah melarang pengamatan langsung gerhana dengan dalih bisa menimbulkan kebutaan. Tindakan itu dibumbui instruksi yang sembrono. Banyak pegawai negeri, misalnya, dipulangkan lebih cepat sebelum gerhana terjadi agar bisa mengurung anak-anak mereka di rumah.

    Tapi itu cerita lawas. Kini, pemerintah justru mendorong kota perlintasan gerhana menggelar pesta yang semarak. Festival Legu Gam, misalnya. Perayaan tersebut tak hanya menampilkan tarian, tapi juga membungkus tiga acara ritual lainnya. Ada ritual doru gam, yakni tradisi mengunjungi kampung-kampung di Ternate. Ada juga ritus kololi lie, yang dirayakan dengan mengelilingi garis pantai Pulau Ternate. Kemudian ditutup dengan ritual fere kie, yang berisi kegiatan mendaki Gunung Gamalama.

    Tidore pun tak mau kalah. Pulau tetangga di selatan Ternate ini juga menggelar festival adat Dolo-dolo untuk menyambut gerhana matahari total. Perayaan itu merupakan tradisi yang dilakukan setiap peristiwa alam, seperti gerhana matahari dan bulan, mampir ke Tidore.

    Peserta merayakannya dengan bersembahyang mohon perlindungan dari gangguan roh jahat saat cincin korona terbentuk dan kegelapan total menyelimuti Tidore. “Lalu, kami mengakhirinya dengan memukul kentungan bambu secara serentak,” tutur Sultan Tidore, Husain Syah.

    Husain mengatakan pergelaran festival kebudayaan di Maluku Utara, yang bersamaan dengan datangnya gerhana, merupakan berkah bagi dunia pariwisata di kepulauan timur Indonesia itu. Sebab, menurut dia, promosi obyek wisata di wilayahnya belum terdengar nyaring sebelum kabar gerhana matahari total melintasi langit Maluku Utara. “Semoga datangnya gerhana matahari total yang berpadu dengan festival kebudayaan jadi magnet bagi wisatawan.”

    Bicara soal mendongkrak jumlah wisatawan Ternate dan Tidore saat gerhana matahari, Husain bisa berharap kepada pebisnis wisata, seperti Asnawi Ibrahim. Ia adalah pemilik agen wisata Asya Tour Ternate. Asnawi punya paket komplet wisata gerhana matahari total. “Paket ini menggaransi turis tak hanya mengamati gerhana beberapa menit, tapi juga menikmati keindahan Maluku Utara,” kata dia.

    Asnawi, 26 tahun, punya lima paket wisata gerhana matahari. Variasi paket tersebut hanya berbeda pada titik lokasi pengamatan gerhana. Selebihnya, Asnawi akan mengajak turis berkeliling Ternate dan Tidore.

    Asnawi mengemas paket wisatanya dengan nuansa kejayaan dan daya tarik Ternate pada era kolonial. Empat abad silam, kompeni menjadikan kota seluas 111 kilometer persegi itu sebagai markas kongsi dagang lantaran kekayaan rempah-rempahnya. Sisa kejayaan itu tampak dari benteng-benteng kolonial yang masih kokoh berdiri hingga kini. Ada Benteng Orange, Benteng Kalamata, dan Benteng Kota Janji. Tak ketinggalan pula Benteng Tolukko dan Benteng Gamlamo. Ia akan mengajak turis menyambangi semua benteng tersebut. “Kedaton Sultan Ternate juga masuk daftar destinasi kunjungan,” kata Asnawi.

    Obyek wisata alam juga tak luput dari paket yang ditawarkan Asnawi. Ia mengajak turis ke bukit Danau Laguna, di mana sejauh mata memandang terhampar Pulau Tidore di seberang lautan. Ada juga pesona Batu Angus, lava beku hasil letusan Gunung Gamalama tiga setengah abad silam. Adapun dalam kunjungan ke Danau Tolire dan Pantai Bobane Ici, turis bisa menyantap sajian hidangan laut.

    Pengamatan gerhana matahari total tentu menjadi acara klimaks petualangan para turis. Namun turis tetap harus bersiap menghadapi kejutan terakhir: wisata kuliner. Masakan khas Maluku Utara, seperti papeda, pisang rebus santan, dan sayur garu—hidangan berbahan jantung pisang dan daun pepaya—sudah menunggu. Wisatawan cukup merogoh kocek sebesar Rp 4,5 juta untuk semua fasilitas perjalanan, termasuk hotel dan konsumsi. “Turis hanya perlu mengurus tiket perjalanan menuju dan dari Ternate,” tutur Asnawi.

    Pesta menyongsong gerhana juga tengah disiapkan warga Poso, Sulawesi Tengah. Festival Kawaninya, yang berarti pesta kegelapan, diadakan tepat menjelang cincin korona terbentuk. Tari Motaro akan dipentaskan di panggung pengamatan gerhana di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara. “Desa tersebut merupakan titik terbaik pengamatan gerhana di Poso,” kata Putera Botilangi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

    Lain Poso, lain pula semarak perayaan gerhana di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Perayaan di sana dipusatkan di Bundaran Besar Palangkaraya. Menjelang gerhana pada pukul 07.28 WIB, warga menggelar ritual adat Manenung Gawin Rahu.

    Setelah menyaksikan gerhana, wisatawan bisa mendaki Bukit Tangkiling, menyusuri desa adat di Sei Gohong, serta mengitari Rumah Betang. “Tersedia pula paket susur Sungai Kahayan dan mengunjungi makam pemeluk kepercayaan Kaharingan di Desa Bukit Rawi, Kabupaten Pulang Pisau,” ucap Yuel Tanggara, Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Tengah.

    Kemeriahan yang sama dipastikan juga terjadi di belahan Indonesia barat. Bangka-Belitung, salah satunya. Pemerintah daerah menyiapkan pementasan seni dan festival menyambut gerhana matahari total, yang diprediksi terjadi mulai pukul 07.21 WIB selama sekitar dua menit. Bupati Bangka Tengah Erzaldi Rosman Johan mengatakan karnaval budaya, pertunjukan gambus, dan tarian rudat kolosal siap memanjakan mata wisatawan.

    Bagi turis yang gemar memompa adrenalin, ada atraksi pencak silat, pertandingan 1.001 bola api, dan lomba kereta sorong yang layak ditonton. Kegiatan itu melibatkan adu fisik dan ketangkasan pemainnya. “Kereta sorong paling menarik karena menjadi satu-satunya olahraga tradisional Bangka Tengah yang diakui UNESCO," ucap Erzaldi.

    Di tengah pesta rakyat itu, Festival Jeramba di Desa Sungai Padang, Belitung, juga layak menjadi alternatif. Perayaan digelar selama empat hari sejak 5 Maret untuk mensyukuri berdirinya bangunan jembatan yang menunjang perekonomian desa.

    Jika tak puas menyaksikan atraksi budaya, banyak biro perjalanan yang siap menyodorkan paket wisata, salah satunya Bangka Tour. Pemilik biro, Muhamad Azhari, mengatakan kemolekan alam Bangka-Belitung sayang untuk dilewatkan, terutama jika wisatawan sekadar mengamati cincin korona. “Maka kami tawarkan paket gerhana matahari sekaligus rehat di pantai-pantai eksotis,” kata Azhari, 29 tahun.

    Mulai Pantai Tikus, Pantai Rambak, Pantai Parai, hingga Pantai Tanjung Tinggi, yang tersohor lantaran menjadi latar tetralogi Laskar Pelangi, bakal disambangi. Khusus Pantai Tanjung Tinggi, kata Azhari, bakal dijadikan pusat pengamatan gerhana bagi turis. Jika turis masih ingin berkeliling ke jantung kota, Azhari akan mengajak mereka ke Museum Tanjung Pandan, tempat beragam koleksi keramik, fosil, dan batuan alam tersimpan. “Di pengujung perjalanan, turis berkesempatan mencicipi mi Belitung,” ia berujar. Azhari menambahkan, “Sediakan Rp 1,5 juta untuk menikmati kesempatan langka itu.”

    Bila kantong agak tebal, tawaran paket biro kapal pesiar Holland America Line sangat sepadan dengan momentum gerhana yang langka. Dengan membayar US$ 2.500-8.000, sensasi mengamati gerhana di Selat Makasar dapat diperoleh dari atas dek kapal MS Volendam, yang punya tiga kolam renang dan satu kasino. Perjalanan menyusuri Laut Jawa itu ditempuh selama 16 hari, dengan persinggahan di Benoa, Lombok, dan Pulau Komodo.

    Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan peristiwa gerhana merupakan magnet tambahan bagi beragam festival yang diselenggarakan di daerah. Misi utamanya tetap menarik wisatawan untuk berkunjung ke obyek wisata eksotis di Indonesia. “Ibaratnya kami menunggangi gerhana,” ujarnya.

    Arief memprediksi keragaman pesta dan persebaran lokasi pengamatan bisa mendorong 5 juta wisatawan lokal dengan potensi belanja hingga Rp 3,8 triliun. Adapun 100 ribu turis asing diprediksi datang ke Indonesia dan menyumbangkan devisa sebesar Rp 1,56 triliun.

    Sayang, asa Arief menyaksikan kemeriahan pesta rakyat di daerah tak melulu terpenuhi. Beberapa kota tak bergeliat menyambut gerhana. Kepulauan Mentawai, yang pertama kali menyaksikan gerhana pada pukul 07.19 WIB, justru tak punya agenda khusus. Pemerintah hanya menggandeng pemilik resor wisata di Desa Silabu, Pagai Utara. Di resor itulah pengamatan gerhana berpusat, selain pesta kecil-kecilan pada malam hari sebelum gerhana datang. “Sebenarnya persiapan sudah dirancang sejak setahun lalu, tapi pos anggaran perayaan gerhana tak disetujui,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai Desti Seminora.

    RAYMUNDUR RIKANG | AMAR BURASE (POSO) | BUDHY NURGIANTO (TERNATE) | FEBRIANTI (PADANG) | KARANA WIJAYA (PALANGKARAYA) | SERVIO MARANDA (BANGKA)

    Catatan:
    Artikel ini terlebih dahulu dimuat di Koran Tempo Akhir Pekan edisi Sabtu, 5 Maret 2016 dengan judul Semarak Korona Lintasi Khatulistiwa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?