Banteng Afrika di Kebun Binatang Surabaya Melahirkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung menyaksikan Komodo (Varanus komodoensis) menyantap kambing  di KBS, Surabaya, 19 Juli 2015. Kebun binatang tersebut menjadi salah satu tujuan bagi warga menikmati libur Lebaran. ANTARA/Zabur Karuru

    Pengunjung menyaksikan Komodo (Varanus komodoensis) menyantap kambing di KBS, Surabaya, 19 Juli 2015. Kebun binatang tersebut menjadi salah satu tujuan bagi warga menikmati libur Lebaran. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.COSurabaya - Kebun Binatang Surabaya (KBS) mendapat tambahan anggota baru, yakni seekor anak betina ankole-watusi atau dikenal sebagai banteng Afrika atau dikenal pula dengan nama Ankole-Bertanduk Panjang. Banteng Afrika ini melahirkan anaknya dengan lancar pada Kamis, 3 Maret 2016, sekitar pukul 04.30. 

    "Anak betina ini merupakan anak kedua dari banteng Afrika di KBS karena, sebelumnya, 8 Agustus 2014, juga lahir bayi jantan bernama Fajar," kata Penjabat Sementara Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya Aschta Boestani Tajuddin, Jumat, 4 Maret 2016.

    Menurut Aschta, proses kelahiran anak banteng itu terjadi sejak Selasa Pagi, 1 Maret 2016. Saat itu, salah satu petugas menemukan banteng Afrika tersebut mengeluarkan banyak lendir dari kelaminnya kemudian diperiksa tim dokter KBS. Hasilnya, ternyata banteng itu akan segera melahirkan. “Tepat pukul 04.30 WIB, anak betina watusi lahir dengan berat 25 kilogram,” ujarnya.

    Dengan lahirnya betina watusi, ucap Aschta, total watusi di KBS menjadi empat ekor, yakni 2 betina dan 2 jantan. Awalnya KBS itu hanya mempunyai sepasang watusi jantan dan betina yang diberikan Taman Safari II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, pada 25 Maret 2013. “Karena sudah bereproduksi, lahirlah dua anak watusi itu,” ujarnya.

    Aschta menambahkan, satwa ini memiliki ciri-ciri khusus, yaitu tanduknya besar dan panjang hingga mencapai 2,4 meter. Biasanya digunakan untuk alat pertahanan dan dipakai sebagai alat penyeimbang suhu tubuh saat cuaca panas. “Watusi dewasa, biasanya, berbobot 410-730 kilogram. Masa buntingnya 8-9 bulan dan rata-rata melahirkan 1 anak setiap kali periode bunting.”

    Kepala Departemen Kesehatan Satwa Rahmat Suharta mengatakan kondisi bayi betina watusi itu masih lemah sehingga harus tetap dalam pengawasan tim medis KBS. Bahkan tim medis KBS mengaku memberikan air susu tambahan 144 cc setiap dua jam sekali. “Tujuannya memberikan kekuatan secepatnya pada bayi, sehingga dapat berdiri dan memudahkan menyusu pada induknya," katanya.

    Rahmat memastikan tim medis akan terus melakukan pemantauan dan perawatan intensif 24 jam hingga induknya itu dirasa sudah siap merawatnya. “Jadi tempatnya sementara ini kami pisahkan,” tuturnya.

    MOHAMMAD SYARRAFAH 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.