Jokowi Setujui Pembelian Sukhoi SU-35  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat tempur Sukhoi Su-35 fighter dengan mesin jet terbaru mengangkasa di bandara Le Bourget, menjelang pembukaan pameran dirgantara Paris Air Show ke-50, di Perancis (15/6). REUTERS/Pascal Rossignol

    Pesawat tempur Sukhoi Su-35 fighter dengan mesin jet terbaru mengangkasa di bandara Le Bourget, menjelang pembukaan pameran dirgantara Paris Air Show ke-50, di Perancis (15/6). REUTERS/Pascal Rossignol

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan Presiden Joko Widodo telah menyetujui pembelian pesawat tempur asal Rusia, Sukhoi SU-35. Meski demikian pembelian akan dilakukan secara bertahap. "Kami pastikan dulu harga sebenarnya berapa, nanti kepastiannya akhir saat saya kunjungan kerja ke Moskow, Rusia. Baru jelas," kata Ryamizard di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Jumat, 4 Maret 2016.

    Soal jumlah yang akan dibeli, Ryamizard mengatakan sama seperti rencana sebelumnya. "Pemerintah hanya akan membeli 8-10 unit Sukhoi SU-35 dulu, perawatan aset yang ada diutamakan," katanya.

    Ryamizard mengatakan jumlah itu cukup untuk saat ini, meski diketahui bahwa kebutuhan satu skuadron TNI Angkatan Udara adalah 14-16 unit pesawat. SU-35 akan menggantikan jet buru sergap F-5 Tiger yang sudah uzur. "Yang itu sudah 30 tahun dipakai. Pilot naik juga jadi ragu 'ini jatuh tidak ya'," ujar Ryamizard berkelakar.

    Ryamizard akan berkunjung ke Moskow, Rusia, akhir bulan ini. Dia diagendakan menjadi pembicara dalam sebuah acara, sekaligus menandatangani kontrak pembelian dengan produsen Sukhoi SU-35.

    Sejumlah situs alat pertahanan menyebut harga satu unit Sukhoi SU-35 sebesar US$ 50-70 juta, atau Rp 680-952 miliar dengan kurs Rp 13.600 per dolar Amerika Serikat. Sukhoi SU-35 merupakan jenis pesawat tempur canggih buatan Rusia berkemampuan siluman (antiradar).

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.