Pagi Ini, 52 Titik Panas Terpantau di Riau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memantau titik api melalui layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Pembakaran lahan secara ilegal ini telah mengakibatkan kebakaran hutan dan kabut asap di Riau dan Kalimantan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Petugas memantau titik api melalui layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Pembakaran lahan secara ilegal ini telah mengakibatkan kebakaran hutan dan kabut asap di Riau dan Kalimantan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyatakan satelit Tera dan Aqua memantau 52 titik panas di sejumlah wilayah Riau. Jumlah tersebut jauh meningkat dari hari sebelumnya 18 titik. Titik panas terkonsentrasi di empat kabupaten. "Titik panas terpantau pukul 07.00 pagi," kata Kepala BMKG Pekanbaru Sugarin, Kamis, 3 Maret 2016.

    Sugarin mengatakan Kabupaten Bengkalis masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak yang mencapai 37 titik, disusul Siak 10 titik, Meranti 4 titik, dan Rokan Hilir 1 titik.
    "Tingkat kepercayaan di atas 70 persen atau 36 titik," ujarnya.

    Sugarin menjelaskan, pada umumnya cuaca di wilayah Riau cerah hingga berawan. Potensi hujan dengan intensitas ringan tidak merata terjadi di wilayah Riau bagian tengah, timur, dan selatan. "Temperatur maksimum 31.0-33.5 derajat Celsius," katanya.

    Meski demikian, titik panas belum mempengaruhi kualitas udara di Riau. Jarak pandang relatif normal, seperti Pekanbaru 8 kilometer, Dumai 7 kilometer, Rengat 5 kilometer, dan Pelalawan 5 kilometer.

    Kebakaran lahan dua pekan terakhir marak terjadi di sejumlah daerah di Riau. Di Bengkalis lahan terbakar mencapai 100 hektare lebih, sedangkan di Meranti ada 50 hektare kebun sagu warga turut terbakar. Kepolisian daerah mencatat secara keseluruhan hutan terbakar di Riau pada 2016 ini mencapai 222,5 hektare.

    Pelaksana tugas Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, mengaku musim kemarau yang melanda Riau masih menjadi masalah pemicu kebakaran hutan dan lahan. Sejak awal, kata Arsyadjuliandi, ia telah melakukan koordinasi bersama seluruh Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (Forkompinda) dalam menata ulang pengelolaan gambut.

    Menurut Arsyadjuliandi, pemerintah bersama kepolisian, TNI dan pihak swasta telah merencanakan pembangunan sekat kanal di sejumlah kanal lepas di Riau sebagaimana perintah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebanyak 385 unit diselesaikan oleh kepolisian, 494 unit oleh perusahaan, dan 151 unit dibangun pemerintah daerah.

    "TNI telah membentuk tenaga pembina desa berjumlah 150 orang. Kemudian kejaksaan terus sosialisasi penegakan hukum," ujar Arsyadjuliandi.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.