Polisi Bekuk Pembunuh Warga Dayak di Banjarmasin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. Tempo/Indra Fauzi

    Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. Tempo/Indra Fauzi

    TEMPO.CO, Banjarmasin- Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan dibantu Polda Sulawesi Selatan, berhasil menangkap seorang pelaku pembunuhan terhadap Eki Persia Rianda, 25 tahun. Polisi menangkap tersangka atas nama M. Faruk, 30 tahun, itu di Jalan Tarakan, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu dini hari 2 Maret 2016.

    “Ditangkap pukul 02.30 WITA,” kata Kepala Polda Kalsel, Brigadir Jenderal Agung Budi Maryoto saat konferensi pers, Rabu 2 Maret 2016.

    Barang bukti yang turut diamankan berupa sebilah celurit, pisau, kaos, dan sepeda motor nopol DA 6110 JL.

    Polisi telah menetapkan dua tersangka utama atas kasus pembunuhan yang sempat membikin isu kisruh beraroma etnis merebak di Kota Banjarmasin. Selain Faruk, tersangka Ardiansyah alias Mansyah lebih awal menyerahkan diri ke Polresta Banjarmasin. Menurut Agung, tersangka Faruk melarikan diri ke Makassar melalu pelabuhan di Jorong, Kabupaten Tanah Laut.

    Beberapa hari setelah membunuh Eki, Faruk melairkan diri menggunakan kapal laut lewat pelabuhan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. Penyidik mencoba menelisik manifes penumpang pelayaran tujuan Balikpapan, Mamuju, dan Makassar tersebut. Dari daftar manifes, kata Agung, polisi menemukan sejumlah daftar penumpang atas nama Muhammad.

    Petugas segera berkoordinasi dengan Kepolisian Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Faruk akhirnya terendus berada di Makassar. Tak ingin buruan melarikan diri, polisi sempat menembak betis kanan tersangka Faruk. “Diketahui ada nama Muhammad Faruk ini. Dia sebenarnya ingin mencari kerja ke Papua Barat, jadi di Makassar hanya transit,” ujar Brigjen Agung Budi.

    Atas kasus yang membetot perhatian publik ini, Brigjen Agung terpaksa langsung menjemput Faruk memakai jet pribadi milik seorang pengusaha tambang di Kalsel. Polisi akan menjerat para tersangka menggunakan pasal 170 KUHP dengan ancaman 12 tahun penjara.

    Kasus kriminal ini sempat memantik isu kerusuhan etnis antara Dayak dan Madura di Banjarmasin. Lantaran Korban Eki bersuku Dayak, spanduk ancaman dan isu serangan terhadap etnis Madura cepat menyebar lewat media sosial. Untunglah, stakeholder lekas meredam isu ini dengan perundingan antar pihak, demi meredam konflik terbuka.

    Sepeti dituturkan oleh Mariana, kekasih Eki, pembunuhan berawal dari cekcok antara korban dan dua tersangka. Korban saat itu lewat dihadapan dua tersangka, yang sedang mabuk di depan RPH Jalan Pangeran Antasari, Kota Banjarmasin, Sabtu dua pekan lalu. 

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.