Sebagian Besar Sampah di Daerah Ini Berupa Plastik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • sampah plastik terhampar di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, 27 Februari 2016. Kebijakan tas plastik berbayar diharapkan bisa mengurangi lautan sampah di tempat pembuangan akhir ini. TEMPO/Budi Purwanto

    sampah plastik terhampar di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, 27 Februari 2016. Kebijakan tas plastik berbayar diharapkan bisa mengurangi lautan sampah di tempat pembuangan akhir ini. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sebanyak 60 persen dari 2.733 meter kubik volume sampah per hari di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berupa sampah plastik. Sampah-sampah itu merupakan limbah rumah tangga dan industri. "Sampah plastik didominasi oleh tas plastik," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Purwanto, Rabu, 2 Maret 2016.

    Namun, kata dia, dari seluruh volume sampah, sebanyak 80 persen sudah bisa ditangani. “Sisanya masih belum bisa tertangani,” ujarnya. Masyarakat juga sudah diimbau untuk memilah sampah. Sampah dipilah menurut jenisnya, yakni sampah organik dan sampah nonorganik. “Misalnya sampah plastik disendirikan, sampah kaca, besi, dan lain-lain juga dipilah.”

    Pengelola sampah juga sudah mulai memilah. Sampah organik dijadikan kompos untuk pupuk. Sampah yang tidak dapat diolah diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA), yang berada di Piyungan, Bantul. "Kami memilah sampah sebelum dibawa ke pembuangan akhir. Kalau tidak, akan didenda oleh pengelola TPA Piyungan," katanya.

    Menurut Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Badan Lingkungan Hidup Sleman Indra Darmawan, masyarakat juga diminta membantu mengolah sampah. Di Sleman, ada 197 kelompok masyarakat yang mengelola sampah secara mandiri. Kelompok-kelompok pengelola sampah secara mandiri itu tersebar di semua kecamatan. "Kami mendorong setiap dusun ada kelompok masyarakat yang mengelola sampah secara mandiri," ucapnya.

    Masyarakat yang mengelola sampah secara mandiri bisa membuat bank sampah. “Dengan pemilahan sampah yang baik, pengelola bisa mendatangkan rupiah dari sampah-sampah itu,” ujar Indra. Misalnya, sampah kertas bisa menghasilkan tabungan karena akan dibeli oleh pedagang barang rongsokan. Begitu pula dengan sampah besi, kaca, plastik, bisa dijadikan uang dan ditabung di pengelola sampah.

     MUH SYAIFULLAH

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.