Cinta Tak Berbalas, Ini Cara Kakek 79 Tahun Lampiaskan Luka Hati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Budi Yanto

    TEMPO/Budi Yanto

    TEMPO.CO, Subang - Karena cintanya bertepuk sebelah tangan, Sadan, 79 tahun, warga Tanjungsari, Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang, Jawa Barat, nekat gantung diri di dahan pohon mangga di Blok Serbanyawa. Pohan mangga itu milik, Suryati, 65 tahun.

    Jasad Sadan ditemukan Nisa, 15 tahun, siswi Madrasah Tsanawiyah Tanjungsari, ketika berangkat ke sekolah, Selasa, 1 Maret 2016. "Saya terkejut, kok, ada mayat kakek-kakek menggantung di pohon mangga," katanya.

    Nisa langsung memberitahukan peristiwa itu kepada Waryono, warga, dan Ii Solihin, Ketua RT setempat. Mereka kemudian meneruskan laporan Nisa kepada Kepala Desa Tanjungsari Timur, Abeng, dan Kepolisian Sektor Cikaum.

    Polisi langsung mendatangi dan memeriksa tempat kejadian. Hasilnya, diketahui bahwa Sadan menggunakan tali rafia hitam sepanjang dua meter untuk gantung diri. Korban mengenakan kemeja batik lengan panjang warna kuning dan celana panjang hitam.

    Jasad Sadan kemudian dievakuasi ke Puskesmas Cikaum. Hasil pemeriksaan sementara petugas medis di puskesmas dipastikan korban tewas akibat gantung diri.

    "Sebab pada bagian lehernya ada bekas jeratan tali rafia sepanjang 29 sentimeter. Tidak ditemukan bekas luka atau tanda penganiayaan," kata Kepala Kepolisian Resor Subang Ajun Komisaris Besar Agus Nurpatria.

    Kepala Desa Tanjungsari Timur, Abeng, mengatakan sebelum ditemukan tewas, korban diketahui ingin merajut kembali cintanya dengan Suryati yang kandas di tengah jalan dua tahun lalu.

    Setelah bercerai, korban memang sempat pulang ke kampung halamannya di Semarang, Jawa Tengah. Belakangan, dia kembali ke Tanjungsari Timur dan berniat rujuk kembali. "Tapi permintaan rujuk itu ditolak," ujar Abeng.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.