Dua Kabupaten di Riau Siaga Kebakaran Hutan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prajurit TNI AD membawa pompa usai membasahkan lahan gambut di kanal bersekat Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, 31 Oktober 2015. Pembuatan kanal bersekat akan dilakukan di semua provinsi dengan hutan dan lahan yang rawan terkena kebakaran, terutama di lahan gambut. ANTARA/Saptono

    Prajurit TNI AD membawa pompa usai membasahkan lahan gambut di kanal bersekat Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, 31 Oktober 2015. Pembuatan kanal bersekat akan dilakukan di semua provinsi dengan hutan dan lahan yang rawan terkena kebakaran, terutama di lahan gambut. ANTARA/Saptono

    TEMPO.CO, Pekanbaru -Dua kabupaten di Riau menyatakan siaga pencegahan kebakaran hutan dan lahan setelah meningkatnya jumlah titik panas dalam sepekan ini. Keduanya kabupaten itu adalah Bengkalis dan Meranti.

    Musim panas dan titik panas yang ditemukan di dua daerah itu sejak dua pekan terakhir memicu terjadinya kebakaran lahan yang terus meluas. ”Dua daerah sudah menyatakan siaga,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger, saat dihubungi Senin, 29 Februari 2016.

    Sanger mengatakan, Pemerintah Riau segera berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penambahan kekuatan antisipasi berupa helikopter waterbombing dan perlengkapan pemadam. Dia mengklaim upaya pencegahan kebakaran terus dilakukan pemerintah daerah bersama kepolisian dan TNI dengan membangun sekat kanal dan embung. ”Pembangunan sekat kanal terus berjalan,” ujarnya.

    Cuaca panas melanda wilayah pesisir timur membuat titik api terus bermunculan. Seluas 50 hektare lahan gambut di Desa Kayu Ara, Kecamatan Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti turut terbakar.

    Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kepulauan Meranti Mahmud Murod mengatakan kebakaran lahan yang terjadi sejak sepekan terakhir turut melahap perkebunan sagu dan karet milik warga desa. Belum diketahui total kerugian. "Petugas terus berupaya memadamkan api," kata Murod.

    Menurut Murod, saat ini kebakaran lahan berhasil dipadamkan. Meski begitu, petugas BPBD Meranti dibantu Kepolisian dan TNI tetap bersiaga di lokasi agar kebakaran tidak terulang. Dia menduga, kebakaran lahan disebabkan adanya unsur kesengajaan dari pihak tidak bertanggung jawab untuk pembersihan. Namun dia belum mengetahui pelakunya. ”Masih dalam penyelidikan polisi," ujarnya.

    Kebakaran lahan juga marak terjadi di Bengkalis. Api melahap hampir 45 hektare lahan gambut di daerah itu. ”Petugas pemadam hingga kini masih berjibaku memadamkan api,” ujar Kepala Bidang Pemadam Kebakaran  BPBD Bengkalis Suiswantoro.

    Dia menjelaskan, kebakaran lahan sudah dua pekan terjadi di Kecamatan Rupat. Titik api baru kembali muncul di Desa Batu Panjang, Seluas 15 hektare lahan gambut terbakar di Rupat. Kemudian di Kecamatan Siak Kecil tepatnya Desa Sungai Linau terpantau 3 titik panas dengan luas 15 hektare. Lalu di Kecamatan Bukit Batu api melahap lahan gambut seluas 20 hektare, di Kecamatan Siak Kecil 8 hektare dan di Kecamatan Bengkalis ada titik api baru di Desa Senggaro melahap lahan seluas 2 hektare.

    Menurut Siswantoro, cuaca panas di Bengkalis mencapai 32 derajat celcius memicu munculnya titik api baru. Terlebih tiupan angin yang cukup kencang membuat titik api terus meluas.

    Suiswantoro mengatakan, petugas pemadam dari BPBD, Masyarakat Peduli Api dan kepolisian sejak awal bersiaga mencegah terjadinya kebakaran lahan sesuai instruksi Presiden Joko Widodo dan pemerintah daerah.

    Namun persoalannya kata dia, masih ada masyarakat yang melakukan pembakaran untuk pembersihan kebun dengan cara sembunyi-sembunyi. Padahal lanjut dia, petugas hampir setiap hari berpatroli dan sosialisasi akan ancaman hukuman bakar lahan. ”Lahan terbakar kebanyakan milik warga,” ujarnya.



    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.