Perajin Ikan Asin Pantura Menganggur, Gara-garanya...  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelayan menjual hasil tangkapan ikannya di Pantai Depok, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, 13 Februari 2016. Cuaca ekstrim yang melanda Pantai Selatan membuat nelayan tidak berani melaut terlalu lama. TEMPO/Subekti

    Nelayan menjual hasil tangkapan ikannya di Pantai Depok, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, 13 Februari 2016. Cuaca ekstrim yang melanda Pantai Selatan membuat nelayan tidak berani melaut terlalu lama. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Subang - Ratusan perajin ikan asin di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa di Subang, Jawa Barat, nyaris menganggur. Gara-garanya, pasokan bahan baku ikan asin seret. “Kami mengalami darurat bahan baku ikan asin,” kata Enok, perajin ikan asin di Muara Blanakan, kepada Tempo, Senin, 29 Februari 2016.

    Perempuan 45 tahunan itu mengatakan, dalam kondisi normal, dia dan keluarganya mampu memproduksi ikan asin dari berbagai jenis ikan mencapai 300-400 kilogram per hari. Namun kini, ucap dia, “Dapat 100 kilogram saja sudah untung.”

    Ikan asin yang dia produksi sekarang berjenis buntet, aroma, dan slanget. Bahan baku ikan asin unggulan dari jenis ikan selar, jambal, dan pepetek sudah tak bisa didapatkannya lagi. Selain untuk memenuhi kebutuhan dan pesanan dari Subang sendiri, produksi ikan asin Enok dipasarkan ke Cikampek, Purwakarta, Karawang, Bekasi, dan Jakarta.

    Menurut Enok, seretnya pasokan bahan baku ikan asin terjadi karena para nelayan tradisional tak bisa melaut. “Mereka menganggur karena sudah beberapa bulan terakhir terjadi angin barat, jadi para nelayan berhenti melaut,” ujar perempuan beranak dua itu.

    Tarkam, nelayan tradisional di Muara Blanakan, mengaku terpaksa jeda melaut sejak tiga bulan lalu. Menurut dia, gelombang laut Jawa tinggi dan anginnya sangat kencang. “Kami enggak mau ambil risiko,” tuturnya.

    Jika situasi Laut Jawa sedang bersahabat, Tarkam mengatakan selalu berhasil menjaring berbagai jenis ikan bahan baku ikan asin. “Sekarang sama sekali enggak melaut, ya, enggak dapat tangkapan sama sekali,” ucapnya.

    Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Subang Otong berujar, para nelayan di Muara Blanakan dan lainnya tak bisa melaut karena tak memiliki perahu atau kapal besar. Otong menuturkan para nelayan rata-rata hanya memiliki kapal dengan kekuatan 5-10 gross tonnage. “Jadi ya harap maklum,” katanya.

    Adapun yang masih bisa melaut dalam kondisi gelombang tinggi dan angin kencang adalah kapal dengan kekuatan di atas 20 gross tonnage. Karena itu, ia mengharapkan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat memberikan bantuan kapal besar buat meningkatkan kemampuan daya saing para nelayan tradisional tersebut. “Jika tidak, nasibnya terus-menerus seperti ini,” ucap Otong.

    NANANG SUTISNA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.