Ridwan Kamil: Yang Bilang Mencuit Tak Pantas Itu Jadul  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ridwan Kamil memberi sambutan saat peresmian jalur pedestrian di area factory outlet Jalan RE Martadinata, Bandung, 28 Desember 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Ridwan Kamil memberi sambutan saat peresmian jalur pedestrian di area factory outlet Jalan RE Martadinata, Bandung, 28 Desember 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengklaim tindakannya mencurahkan kekecewaan melalui akun media sosial Twitter sebagai hal wajar. Hal itu ia sampaikan untuk menanggapi cibiran miring masyarakat yang menganggap salah satu cuitannya di Twitter tak pantas dilakukan oleh kepala daerah.

    "Jika ada yang mengatakan mencuit itu tak pantas, mereka itu jadul (kuno)," katanya saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis, 25 Februari 2016.

    Emil--sapaan akrab Ridwan--menuturkan informasi yang disampaikannya melalui akun Twitter-nya tak ada bedanya dengan yang ada di koran, televisi, ataupun radio. Menurut Ridwan, tulisan yang ada di Twitter merupakan informasi resmi yang layak dijadikan kutipan dalam berita.

    Baca: Kisruh Ridwan Kamil vs Pemkot Surabaya, Ini Kronologisnya

    "Cuitan kami ini kutipable, kan? Itu adalah informasi resmi, baik di Facebook maupun di Twitter," ujarnya.

    Emil sempat mencurahkan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kota Surabaya yang menolak rombongan Pemkot Bandung yang ingin melakukan studi banding.

    Netizen menanggapi beragam cuitan Emil itu. Beberapa orang memintanya berhenti bercuit dan langsung menelepon Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, agar masalah itu segera selesai.

    Pihak Pemkot Surabaya menyatakan permintaan waktu yang dikirimkan Pemkot Bandung belum sempat dibalas karena masih mencari waktu yang tepat. Jadi ketika rombongan Pemkot Bandung datang, pejabat Pemkot Surabaya belum siap.

    INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.