Pesantren Waria di Yogya Dipaksa Tutup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Shinta Ratri, seorang waria dan ketua dari pondok pesantren Al-Fatah, berdoa usai melakukan salat di bulan Ramadan di Yogyakarta, 8 Juli 2015. Al-Fatah merupakan sebuah wadah pondok pesantren yang menampung pada waria. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

    Shinta Ratri, seorang waria dan ketua dari pondok pesantren Al-Fatah, berdoa usai melakukan salat di bulan Ramadan di Yogyakarta, 8 Juli 2015. Al-Fatah merupakan sebuah wadah pondok pesantren yang menampung pada waria. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Forum mediasi yang membahas polemik keberadaan Pesantren Waria Al-Fattah di Dusun Celenan, Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, malah berujung ke rekomendasi pembekuan kegiatan santri. Mediasi itu dipimpin oleh musyawarah pimpinan kecamatan di Balai Desa Jagalan Rabu malam lalu.

    “Kesimpulannya, pesantren waria ditutup karena warga terganggu,” kata Pejabat Sementara Lurah Desa Jagalan, Eko Purwanto, Kamis 25 Februari 2016.  

    SIMAK: Hartoyo Aktivis LGBT: Boro-boro Nikah, Hidup Aman Saja Susah

    Forum mediasi ini digelar karena belasan orang atas nama Front Jihad Islam (FJI) menggeruduk pesantren, Jumat 19 Februari 2016. Mereka memprotes pesantren itu. Tapi, saat proses mediasi, opini berkembang ke penolakan warga terhadap keberadaan pesantren yang telah aktif selama dua tahun.

    Menurut Eko mediasi diikuti oleh pengelola pesantren, FJI, pejabat kecamatan, desa, kepolisian, kepala dukung, ketua RT, dan peduduk setempat. “Ada penjelasan pihak pesantren, dilanjutkan pernyataan FJI dari Umar Said dan berlanjut ke diskusi dengan masyarakat,” kata Eko.

    Baca juga: Menteri Pertahanan: LGBT Itu Bagian dari Proxy War

    Dia mengatakan, salah satu keberatan penduduk adalah kerap  terdengar musik bersuara keras hingga larut malam seusai kegiatan di pesantren. Eko juga menuding pengelola pesantren tak pernah minta izin pemerintah desa, dan penduduk mengeluhkan parkir motor.  

    Adapun Camat Banguntapan, Jati Bayu Broto, mengklaim semua pihak dalam forum menerima kesimpulan itu. Dia juga menganggap pesantren Al-Fattah menerima keputusan itu dan tak membantah tudingan wakil penduduk.

    SIMAK: Soal Isu LGBT, Luhut: Jokowi Mendengar Suara Rakyat, tapi...

    Sebaliknya, Kuasa hukum Pesantren Al-Fattah dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Aditia Arief Firmanto menilai banyak kejanggalan di forum mediasi itu. Menurut dia, panitia mediasi melarang pesantren membawa pendamping. “Kami terpaksa kirim orang untuk mengamati forum mediasi secara sembunyi-sembunyi,” kata dia.

    Aditia menilai mediasi itu menjadi forum penghakiman bagi pengelola pesantren. Dia mencatat pimpinan pesantren Al-Fattah, Shinta Ratri hanya diberi kesempatan bicara sekali. “Padahal, tudingannya macam-macam, dan belum jelas buktinya,” kata dia.

    Menurut Aditia, hasil forum mediasi itu melanggar prinsip hak asasi.  “Karena menghalangi waria menerima pendidikan agama, menjalani hidup secara nyaman dan menentukan nasib,” ujarnya. Dia mengakui, pesantren Al-Fattah memang membekukan kegiatan. Mereka kini sedang mencari tempat baru untuk lokasi pesantren.

    ADDI MAWAHIBUN IDHOM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.