Kisah Batara Kala Bakal Ada di Perangko Khusus Gerhana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Persiapan pengamatan gerhana matahari total di Tanjung Kodok, Jawa Timur, 1983.  Dok. TEMPO/Ilham Soenharjo

    Persiapan pengamatan gerhana matahari total di Tanjung Kodok, Jawa Timur, 1983. Dok. TEMPO/Ilham Soenharjo

    TEMPO.CO, Bandung - Perangko edisi khusus gerhana matahari total 2016 keluaran PT Pos Indonesia bergambar ilustrasi Batara Kala. Mitos tradisional itu sengaja dimunculkan perancangnya untuk berbagai alasan. Di antaranya sebagai enigma dan kenangan pada perangko serta mitos gerhana.

    Perancang perangko tersebut, Agung Eko Budi Waspada, mengatakan peristiwa gerhana matahari total dan parsial, yang akan melintas di wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016, merupakan peristiwa langka yang bakal terulang 350-an tahun kemudian. Momen penting itu juga mengundang minat banyak orang di dunia untuk mengamatinya di Indonesia.

    Semula, mereka sempat mempertimbangkan gambar perangko yang kental bertema ilmiah soal gerhana. Karena ingin gambar perangkonya tidak menjadi generik atau umum dengan tema ilmiah, akhirnya mereka memutuskan untuk menyertakan sosok Batara Kala. “Biar ada enigma, tanda tanya, sehingga orang akan berpikir soal gambar itu,” ujar Agung kepada Tempo, Rabu, 24 Februari 2016.

    Mitos tersebut, kata Agung, dulu muncul untuk menakut-nakuti orang agar tidak melihat langsung gerhana matahari tanpa alat khusus. Tim Dokter Unit Vitreoretina Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, menyebutkan, peralatan seperti ember atau baskom berisi air, penggunaan klise film, klise rontgen (sinar X), dan botol diisi air berwarna, tidak aman untuk mata. Tim merekomendasikan kacamata khusus gerhana yang dilengkapi dengan filter ultraviolet dan inframerah, atau kacamata tukang las dengan tingkat kegelapan nomor 14. Pemakaian untuk menatap matahari dianjurkan hanya sebentar, kurang dari 2 menit.

    Gambar Batara Kala, sesosok raksasa yang menelan matahari saat terjadi gerhana, pada perangko tersebut, kata Agung, melambangkan kenangan mitos dan kenangan perangko sebagai benda pos. “Sebagai sesuatu yang akan hilang, seperti mobil antik, tapi masih digandrungi karena punya pesona,” kata Dosen Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Bandung itu.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.