Eks Gafatar Kaltim Masih Bertani Sampai Medio Februari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Satu keluarga mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) turun dari bus yang menghantarkan mereka dari tempat penampungan asrama haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah menuju Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Total sebanyak 5 bus mengangkut mantan anggota Gafatar yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga

    Satu keluarga mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) turun dari bus yang menghantarkan mereka dari tempat penampungan asrama haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah menuju Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Total sebanyak 5 bus mengangkut mantan anggota Gafatar yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Boyolali - Saat ribuan pengikut eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dari Kalimantan Barat diungsikan ke Jawa sejak akhir Januari 2016 lalu, sebagai buntut dari insiden pembakaran permukiman anggota Gafatar di Kabupaten Mempawah, para anggota Gafatar yang di Kalimantan Timur masih asyik bertani.

    “Kami juga dengar berita itu (ihwal pemulangan anggota Gafatar dari Kalimantan Barat ke Jawa). Saat itu kami masih bertani seperti biasa,” kata Kusyono, satu dari 39 anggota Gafatar dari Kalimantan Timur yang dipulangkan ke Asrama Haji Donohudan Kabupaten Boyolali pada Selasa, 23 Februari 2016.

    Kusyono mengaku tidak menduga jika pemulangan eks Gafatar akhirnya juga berlaku di Kalimantan Timur. Sebab, selama di Kalimantan Timur, laki-laki 32 tahun itu mengatakan, para eks Gafatar diterima baik oleh pemerintah daerah dan warga setempat.

    Baca juga: Ex-Gafatar Diduga Sulit Dapatkan Kembali Modal Awalnya

    “Kami tidak pernah terlibat masalah. Pekan lalu kami juga masih membantu warga asli suku Dayak mengolah lahan mereka. Makanya kami kaget, kok tiba-tiba ada instruksi akan dievakuasi,” kata bujangan asal Kabupaten Purbalingga yang sudah setahun tinggal di Kampung Mendung, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

    Bersama 13 keluarga eks Gafatar yang bermukim di Kampung Mendung, Kusyono sempat diungsikan ke Taman Budaya Sendawar Kutai Barat selama beberapa hari. Setelah itu, eks Gafatar dari berbagai kampung di Kutai Barat diangkut ke Embarkasi Haji Batakan, Balikpapan.

    Baca juga: Soal Penggantian Aset Eks Anggota Gafatar, Mendagri: Kami Data Dulu

    Menurut Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Barat, Jannes Hutajulu, proses evakuasi eks Gafatar di Kalimantan Timur baru berlangsung sekitar sepekan lalu. “Karena para eks Gafatar di itu tersebar di kampung-kampung. Jadi perlu waktu untuk mengumpulkan mereka,” kata Jannes yang menjadi ketua tim pemulangan 39 eks Gafatar asal Jawa Tengah ke Asrama Haji Donohudan.

    Pekan lalu, kata Jannes, total eks Gafatar yang ditampung di Embarkasi Haji Batakan Balikpapan mencapai sekitar 700 orang yang berasal dari 16 provinsi. “Sekarang jumlahnya tinggal sekitar 400 orang,” kata Jannes.

    Baca juga: Menteri Anies Jamin Layanan Pendidikan Anak Eks Gafatar  

    Berbeda dengan Jawa Tengah yang meminta provinsi lain untuk menjemput para eks Gafatar yang ditampung di Asrama Haji Donohudan, pemerintah Kalimantan Timur justru yang mengantarkan para eks Gafatar dari Embarkasi Haji Batakan ke provinsi asal masing-masing. “Hari ini Kalimantan Timur juga memulangkan sejumlah eks Gafatar ke Jawa Timur dengan pesawat,” ujar Jannes.

    Seorang anggota Kepolisian Resor Kutai Barat yang turut mengantarkan 39 eks Gafatar ke Asrama Haji Donohudan mengatakan, para eks Gafatar di Kalimantan Timur mayoritas bertani di atas lahan milik warga asli dengan sistem pinjam pakai. “Jadi sudah tidak ada masalah ihwal aset tanah eks Gafatar. Sedangkan barang-barang mereka sudah dijual sebelum dievakuasi,” kata anggota polisi itu.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.