Menteri Pertahanan: LGBT Itu Bagian dari Proxy War  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memberikan kata sambutan seusai penandatangan kontrak kesepakatan jangka panjang dengan KAI Ltd., di Kementerian Pertahanan, Jakarta, 7 Januari 2016. Penandatangan kontrak antara Kementerian Pertahanan dan Korea Aerospace Industries sebagai wujud kerjasama dalam pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memberikan kata sambutan seusai penandatangan kontrak kesepakatan jangka panjang dengan KAI Ltd., di Kementerian Pertahanan, Jakarta, 7 Januari 2016. Penandatangan kontrak antara Kementerian Pertahanan dan Korea Aerospace Industries sebagai wujud kerjasama dalam pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menilai fenomena kemunculan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia sebagai bagian dari proxy war atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa, tanpa perlu mengirim pasukan militer. 

    "Sejak 15 tahun lalu, saya sudah buat (tulisan) perang modern, itu sama modelnya. Perang murah meriah," katanya di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa, 23 Februari 2016.

    Menurut Ryamizard, ancaman perang proksi itu berbahaya bagi Indonesia karena negara lain yang memiliki kepentingan tidak langsung berhadapan. Karena itu, fenomena pendukung LGBT yang meminta komunitasnya dilegalkan tersebut wajib diwaspadai.

    SIMAK: Hartoyo Aktivis LGBT: Boro-boro Nikah, Hidup Aman Saja Susah

    "(LGBT) bahaya dong, kita tak bisa melihat (lawan), tahu-tahu dicuci otaknya, ingin merdeka segala macam, itu bahaya," kata mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini.

    Ryamizard menjelaskan, perang proksi itu menakutkan lantaran musuh tidak diketahui. Kalau melawan militer negara lain, musuh mudah dideteksi dan bisa dilawan. 

    SIMAK: Soal Isu LGBT, Luhut: Jokowi Mendengar Suara Rakyat, tapi...

    "Kalau perang proksi, tahu-tahu musuh sudah menguasai bangsa ini. Kalau bom atom atau nuklir ditaruh di Jakarta, Jakarta hancur, di Semarang tak hancur. Tapi, kalau perang modern, semua hancur. Itu bahaya," tuturnya.

    Ryamizard menambahkan, perang modern tidak lagi melalui senjata, melainkan menggunakan pemikiran. 

    "Tidak berbahaya perang alutsista, tapi yang berbahaya cuci otak yang membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara," ucapnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.