KBRI Damaskus Pulangkan 32 WNI  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemulangan  26 WNI/TKW dari KBRI Suriah di Bandara Internasional Damaskus, 24 Desember 2015. Rombongan merupakan gelombang repatriasi ke-270 yang dilakukan KBRI Suriah. (Foto: KBRI Suriah)

    Pemulangan 26 WNI/TKW dari KBRI Suriah di Bandara Internasional Damaskus, 24 Desember 2015. Rombongan merupakan gelombang repatriasi ke-270 yang dilakukan KBRI Suriah. (Foto: KBRI Suriah)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kedutaan Besar Republik Indonesia di Damaskus kembali merepatriasi warga negara Indonesia pada 22 Februari 2016. Pemulangan warga Indonesia, yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, ini merupakan repatriasi gelombang ke-272.

    KBRI Damaskus, dalam siaran persnya, Senin, 22 Februari 2016, menyatakan 32 orang TKW kembali ke Indonesia melalui Bandara Internasional Damaskus. Mereka yang direpatriasi sebagian besar berasal dari Jawa Barat, sedangkan sisanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

    Mereka dipulangkan setelah segala hak-hak dan permasalahannya dengan majikan diselesaikan. Repatriasi kali ini didampingi oleh staf Konsuler KBRI Damaskus, Munawwar Juanan Raden.

    Pejabat Protokol Konsuler sekaligus Pejabat Penerangan Sosial Budaya, AM Sidqi, mengatakan di antara 32 TKW yang dipulangkan, terdapat sembilan warga Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia. “Korban perdagangan manusia tetap masuk ke Suriah karena pemerintah Suriah tidak mengakui penghentian pengiriman TKI ke Suriah. Para korban dikirim ke Suriah tanpa kontrak, dokumen, dan prosedur yang legal,” ujar Sidqi.

    Duta Besar RI di Damaskus, Djoko Harjanto, mengatakan pemulangan atau repatriasi TKW ini merupakan program yang berlangsung sejak 2011 karena situasi keamanan di Suriah sangat mengkhawatirkan dan tidak mungkin kontrak kerjanya diperpanjang lagi. Dengan keberangkatan 32 TKW ini, masih terdapat 25 TKW di shelter KBRI Damaskus. Jumlah itu masih terus bertambah setiap hari. 
    Berikut daftar nama repatrian:
    1. Aas Sa Aroh Bt Rasman Mail, Serang, Banten;
    2. Amah Bt Jarsani Isna, Majalengka;
    3. Cempauk Bt Husin Muhamad Ali, Sumbawa, NTB;
    4. Dasih Bt Enim Asim, Karawang;
    5. Dasiyah Bt Darwis Riban, Serang, Banten;
    6. Elis Solihat Bt Aip Amad, Bandung, Jawa Barat;
    7. Enjum Bt Aming Benjol, Tangerang Banten;
    8. Ernawati Bt Sobari Wardi, Cirebon;
    9. Juju Juhartini Bt Suwoyo Sueb, Indramayu;
    10. Komariah Bt Rosim Tajum, Karawang;
    11. Kurniyati Bt Munasip, Mataram;
    12. Mastari Bt Muhamad Sana, Sumbawa NTB; 
    13. Munayah Bt Wasmin Samian, Indramayu;
    14. Nining Bt Sahali Jeber, Cirebon; 
    15. Nunung Bt Saju Ata, Karawang;
    16. Nurcahyawati Bt Santa Darpi, Banten;
    17. Nurhalimah Salim, Brebes; 
    18. Rasti Bt Warsita Iwan, Tangerang, Banten;
    19. Ratih Bt Amran Kartawi, Cirebon;
    20. Rini Bt Sarji Salam, Karawang;
    21. Rosih Bt Amad Maian, Karawang;
    22. Safiyah Residin, Serang, Banten;
    23. Santi Bt Asaran Uji, Sigi, Sulawesi Tengah;
    24. Sartikah Bt Suhara Durahmi, Majalengka;
    25. Siti Rohana Bt Ahmad Marliat, Jepara;
    26. Sri Melani Bt Ismail Gazali, Lombok Barat, NTB;
    27. Sukma Bt Ismail Polo, Barru, Sulawesi Selatan;
    28. Sutinih Bt Kastiman Adris, Indramayu; 
    29. Utijah Bt Raman Sari, Subang; 
    30. Uun Pidiawati Bt Tanyar Engkos, Indramayu; 
    31. Amsah Bt Anwar Kaderi, Banten;
    32. Wati Binti Masita Muhamad, Cirebon.

    MAYA AYU PUSPITASARI


  • TKI
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.