Ridwan Kamil: Di Bandung Tidak Dimungkinkan Poligami

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demo Anti Poligami/TEMPO/ Santirta

    Demo Anti Poligami/TEMPO/ Santirta

    TEMPO.COBandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan jumlah pria di Kota Bandung lebih banyak dibanding perempuan. Dengan jumlah penduduk laki-laki jauh lebih banyak, menurut Ridwan, Bandung sebenarnya tidak memungkinkan bagi pria beristri lebih dari satu atau poligami.     

    Jumlah warga Kota Bandung yang telah melalui pemutakhiran data lewat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil per 31 Desember 2015 tercatat sebanyak 2.378.627 jiwa. Sebelum pemutakhiran data, warga Kota Bandung diprediksi mencapai 2,5 juta jiwa. 

    "Ini yang sudah dikonsolidasi dan sudah diverifikasi," katanya di Balai Kota Bandung, Senin 22 Februari 2016.

    Ridwan menambahkan, ada selisih yang cukup jauh antara jumlah penduduk Kota Bandung yang berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Dinas Kependudukan mencatat jumlah warga Kota Bandung yang berjenis kelamin perempuan berada di kisaran 1.168.000 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk laki-laki berkisar 1.202.000 jiwa. 

    "Kalau diselisihkan, ada kelebihan laki-laki 32 ribu jiwa. Jadi, di Bandung, laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Jumlah yang usianya di bawah 17 tahun sekitar 720 ribu jiwa," ucapnya.

    Meski lebih banyak laki-laki, Ridwan tidak akan mengeluarkan kebijakan pelarangan berpoligami untuk kaum Adam. "Boleh poligami karena agama tidak melarang. Tapi, kalau di Bandung, tidak memungkinkan," tuturnya.

    Ada sedikit saran dari Ridwan untuk para gadis di luar Kota Bandung yang masih “single”. Menurut dia, tidak ada salahnya mencari jodoh pria dari Kota Kembang. 

    "Carilah jodoh di Kota Bandung karena kami kelebihan laki-laki," ucapnya, berseloroh.

    PUTRA PRIMA PERDANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.