Aktivis LGBT Hartoyo Sadar Ia Gay Sejak Sekolah Dasar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta aksi memegang bendera berwarna pelangi dalam parade mendukung hak-hak kaum gay, lesbian, biseksual dan transgender di Mumbai, India, 6 Februari 2016. Ratusan peserta ikut ambil bagian dalam parade yang menuntut penghapusan diskriminasi kaum LGBT. REUTERS/Danish Siddiqui

    Peserta aksi memegang bendera berwarna pelangi dalam parade mendukung hak-hak kaum gay, lesbian, biseksual dan transgender di Mumbai, India, 6 Februari 2016. Ratusan peserta ikut ambil bagian dalam parade yang menuntut penghapusan diskriminasi kaum LGBT. REUTERS/Danish Siddiqui

    TEMPO.COJakarta - Hartoyo, aktivis LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) menyatakan telah menyadari dirinya gay sejak kelas IV sekolah dasar. "Jauh sebelum saya tahu bahwa Islam melarang gay," katanya seusai diskusi bertajuk "LGBT, Beda tapi Nyata" di Warung Daun, Cikini, Jakarta, pada Sabtu, 20 Februari 2016.

    Hartoyo mengatakan saat itu ia merasakan ketertarikan kepada laki-laki. "Waktu kecil, saya pernah tertarik dengan tetangga saya. Seorang bapak," katanya. Saat itu ia berhasrat menyentuh bapak berkulit hitam tersebut. Ia menyatakan senang dengan pria berkulit hitam.

    Hartoyo kemudian memegang bapak itu. "Mungkin awalnya dia pikir saya memijat. Tapi lama-kelamaan dia mungkin sadar," ujarnya. Bapak itu kemudian melarang Hartoyo menyentuhnya. Namun Hartoyo memaksa. Lalu bapak tersebut mengizinkan Hartoyo sekadar memeluknya. 

    Hartoyo pun merasa senang. "Mungkin kalau waktu itu ada Undang-Undang Perlindungan Anak, bapak itu bisa dihukum pidana meski saya yang aktif," tuturnya sambil bercanda.

    Kesukaan kepada lelaki terus ia rasakan. Hingga saat sekolah menengah pertama, Hartoyo belajar agama dan baru mengetahui bahwa Islam melarang hubungan sesama jenis. "Dari situ saya mulai kecil hati," ucap Hartoyo.

    Hartoyo menjadi pendiam. Beranjak SMA dan kuliah, ia hanya bisa terbuka dengan kelompok kecilnya. Walau berprestasi, ia tak mau menonjolkan diri. "Takut identitas saya diketahui," katanya.

    Hingga pada 2005, Hartoyo mendapatkan pengetahuan seksual dan membaca tulisan cendekiawan muslim Ulil Abshar Abdalla mengenai agama. "Membuka pintu pandora di kepala saya bahwa takdir itu tidak tunggal," ujarnya. Ia pun mulai berani terbuka.

    Hartoyo mengatakan keluarganya menangis saat ia membuka rahasianya. Hingga saat ini, keluarganya masih menangis jika diungkit perihal orientasi seksualnya. "Mungkin mereka menangis dilematis. Sisi lain bangga karena saya mau terbuka. Di sisi lain, mereka maunya saya menjadi hetero," tutur Hartoyo.

    Hartoyo mengatakan LGBT kebanyakan mengalami tekanan sosial. Cemooh, ejekan, dan diskriminasi menjadi salah satunya. Akibatnya, menurut Hartoyo, mereka sering tidak mengontrol diri dan tak tahu etika. "Tidak bisa bedakan apa itu pelanggaran, apa itu pelecehan," ucapnya.

    Hartoyo menyerukan kampanye anti-kekerasan dan diskriminasi berbasis orientasi seksual. Ia menyatakan komunitasnya mendidik LGBT untuk menjadi LGBT yang bermoral, punya etika, dan bertanggung jawab. Hartoyo juga menuntut pemerintah memenuhi hak dasar kaum LGBT sebagai warga negara.

    Kini, setelah ia berani terbuka, Hartoyo berdagang untuk memutar roda keuangannya. Menurut dia, sulit mendapatkan kerja jika ia mengaku gay. Hartoyo dan komunitasnya menjual pernak-pernik seperti kalung dan gelang untuk mendanai kegiatan komunitas itu. "Memang tidak cukup, tapi membantu," katanya.

    Saat bertemu Tempo, Hartoyo mengenakan kalung dan gelang produksi komunitasnya. Kalung dan gelangnya dibuat berwarna seperti pelangi sebagai simbol LGBT. "Kalungnya dijual sekitar Rp 250 ribu," ujarnya.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.