Dibogem Masinton, Dita Cabut Kuasa Hukum dari LBH Apik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu, Dita Aditia, saat memberikan pengaduan dan perlindungan, di kantor Komnas Perempuan, Jakarta, 1 Februari 2016. Dita Aditia meminta perlindungan terkait kasus tindak kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Masinton Pasaribu. TEMPO/Imam Sukamto

    Staf anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu, Dita Aditia, saat memberikan pengaduan dan perlindungan, di kantor Komnas Perempuan, Jakarta, 1 Februari 2016. Dita Aditia meminta perlindungan terkait kasus tindak kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Masinton Pasaribu. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Asisten pribadi Masinton Pasaribu, Dita Aditia Ismawati, mencabut kuasa LBH Apik sebagai kuasa hukumnya dalam kasus dugaan penganiayaan oleh anggota Komisi Hukum DPR tersebut. "Tadi sore Dita datang ke kantor kami untuk cabut kuasa,” kata Direktur LBH APIK sekaligus kuasa hukum Dita, Ratna Bantara Mukti, saat dihubungi Tempo, Kamis malam, 18 Februari 2016.

    Ratna menuturkan alasan pencabutan kuasa itu karena Dita mengaku ingin menghentikan proses hukum yang sedang berjalan, termasuk proses di Mahkamah Kehormatan Dewan. Menurut Ratna, Dita mengaku mendapat tekanan dari keluarganya serta dari pihak Masinton. "Sejak awal, keluarga, terutama ibunya, enggak mendukung. Kemarin malam kabarnya pihak Pak Masinton juga menemui keluarga Dita," ujarnya.

    Dita berujar kepada Ratna, dia mendapat tekanan untuk meneken draf perjanjian damai dengan Masinton. Poin draf itu di antaranya menyebutkan Dita harus mencabut kuasa LBH Apik sebagai kuasa hukum dan mencabut laporannya di Bareskrim Mabes Polri. Namun Ratna tidak mengetahui pasti kelanjutan dari pencabutan laporan kepolisian itu. "Karena sampai terakhir tidak ada pembicaraan untuk mencabut laporan," ucapnya.

    Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Agus Riyanto, ketika dikonfirmasi, menuturkan belum mengetahui informasi perihal pencabutan laporan Dita itu. “Saya belum tahu, belum dapat laporannya,” ujar Agus ketika dihubungi Tempo, Kamis malam. Sedangkan Masinton tidak mengangkat telepon saat diminta konfirmasi terkait dengan pencabutan laporan Dita.

    Pada 15 Februari 2016, Masinton mengklaim bahwa kasusnya dengan Dita sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu juga mengatakan bahwa kedua belah pihak sudah saling memaafkan. Masinton pun berharap, Dita mencabut laporannya ke MKD dan Bareskrim Polri.

    Pada 2 Februari 2016, Masinton dilaporkan ke MKD karena diduga menganiaya Dita pada 21 Januari. Dita juga melaporkan tindakan Masinton itu ke Bareskrim. Namun Masinton dan Dita memiliki cerita berbeda mengenai kejadian itu. Menurut Masinton, saat di daerah Otista untuk mengantar asisten pribadinya itu, Dita yang tengah mabuk tiba-tiba menarik setir mobil yang dikemudikan oleh tenaga ahli Masinton yang lain, Abraham Leo.

    Mobil yang oleng membuat Abraham refleks menepis tangan Dita dan tanpa sengaja mengenai wajah Dita. Namun versi itu berbeda dengan apa yang disampaikan Dita. Melalui Sekretaris Badan Hukum Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem DKI Jakarta Wibi Andrino, Dita mengaku yang memukulnya adalah Masinton sendiri. Di dalam mobil itu juga tidak ada orang lain selain Dita dan Masinton.



    GHOIDA RAHMAH | ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.