Puluhan Balita di Sikka Terserang DBD, Satu Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Balita yang menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dirawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta, 8 Februari 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Balita yang menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dirawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta, 8 Februari 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 56 anak dibawah lima tahun (Balita) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terserang demam berdarah dengue (DBD), satu diantaranya dilaporkan meninggal.

    "Ada 56 balita yang dirawat karena DBD, dan satu orang yang meninggal," kata Dokter anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere, Kamis, 18 Februari 2016.

    Balita yang meninggal itu, menurut dia, karena menderita DBD dengan panas tinggi dan penurunan trombosit. Hingga kini puluhan balita itu masih dirawat di RSUD TC Hilers. "Jumlah penderita DBD diprediksi akan terus bertambah," katanya.

    Dia mengatakan rata- rata pasien penderita DBD mengalami Kekurangan cairan, panas tinggi dalam tubuh dan penuruman trombosit. Bahkan, katanya, pemerintah setempat telah kasus DBD di Sikka sebagai kejadian luar biasa (KLB). "Mereka rata- rata kekurangan cairan dan panas tinggi," katanya.

    Ibu Yohana, anak salah satu pasien DBD mengaku anaknya sudah satu mingggu dirawat di rumah sakit itu akibat DBD. Awalnya, menurut dia, anaknya panas tingggi dan perut sakit serta sulit makan. Karena itu, makanya anaknya dibawa ke rumah sakit untuk dirawat.

    "Hingga kini kondisi anak saya belum membaik," katanya. Faktor penyebab DBD, karena virus dengue yang ditularkan dari nyamuk aides aegypti.

    YOHANES SEO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.