Aktivis Lingkungan Ini Ingin Kantung Plastik Dibayar Rp 100 Ribu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Model dan aktivis lingkungan, Davina Veronica dalam acara dukungan gerakan kantong plastik berbayar di Jakarta, 17 Februari 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari

    Model dan aktivis lingkungan, Davina Veronica dalam acara dukungan gerakan kantong plastik berbayar di Jakarta, 17 Februari 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menerbitkan peraturan menteri tentang penerapan kantong plastik berbayar. Model dan aktivis lingkungan, Davina Veronica, mengatakan harga selembar kresek itu layaknya Rp 100 ribu.

    "Memang enggak masuk akal, tapi ingin aja mengubah gaya hidup kita," katanya dalam diskusi Kantong Plastik Tidak Gratis, Mengapa Harus Kita Dukung? di Locanda Cafe, Jakarta, Rabu, 17 Februari 2016.

    Duta WWF Indonesia ini mengatakan sampah tidak hanya masalah di Jakarta dan Indonesia, tapi masalah global. Sampah-sampah di seluruh bumi,  setiap tahun, sekitar 500 juta hingga 1 miliar adalah sampah plastik. "Metafornya, bumi bisa dibungkus oleh plastik sampai sepuluh kali," kata Davina.

    Menurut Davina,  masalah plastik sudah sangat krusial. Perlu kepedulian dan kepekaan dari setiap individu. Davina bercerita, sejak bergabung dengan WWF Indonesia pada 2009, dia mengubah gaya hidup, yaitu tidak pernah lagi memakai kantong plastik saat berbelanja.

    Ia selalu membawa kantong kain. Saat berbelanja di supermarket, Davina juga membawa kantong. Sekitar lima atau enam kantong belanja selalu tersedia di mobilnya. "Kalau sopir saya tiba-tiba parkirnya di antah-berantah jauh banget, saya enggak jadi belanja," ujarnya. "Atau kalau ada dijual kantong kain, saya beli."

    Menurut Davina, kebiasaan mengurangi pemakaian plastik harus dimulai dari diri sendiri. "Bumi ini rumah kita bersama. Kita harus jaga, ubah gaya hidup dari hal-hal kecil," ujarnya.

    Ia senang karena pemerintah mau menggalakkan pengurangan kresek. "Mungkin ini cara yang baik supaya semua orang membuka mata dan hati mereka bahwa ini masalah kita, lho. Semuanya penghuni bumi ini," kata Davina. Menurut dia, hal ini baik untuk mendisiplinkan masyarakat guna mengubah gaya hidup sebelumnya menjadi gaya hidup yang peduli lingkungan.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.