Belum Dijemput, Eks Gafatar Asal Medan Piknik ke Malioboro  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Satu keluarga mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) turun dari bus yang menghantarkan mereka dari tempat penampungan asrama haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah menuju Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Total sebanyak 5 bus mengangkut mantan anggota Gafatar yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga

    Satu keluarga mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) turun dari bus yang menghantarkan mereka dari tempat penampungan asrama haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah menuju Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Total sebanyak 5 bus mengangkut mantan anggota Gafatar yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.COBoyolali - Jenuh setelah tiga pekan ditampung di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, sebagian warga bekas pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Kota Medan, Sumatera Utara, memutuskan piknik ke luar kota.

    "Ahad pagi lalu, sekeluarga eks Gafatar asal Kota Medan meminta anak saya untuk diantar ke Terminal Kartasura," kata Bibit, pemilik warung makan di depan Asrama Haji Donohudan, Selasa, 16 Februari 2016.

    Bibit mengatakan keluarga eks Gafatar itu terdiri atas enam orang, yaitu suami, istri, dan empat anak. Semula, mereka ingin mengunjungi Candi Borobudur di Kabupaten Magelang.

    "Namun, setelah kami jelaskan bahwa Borobudur itu cukup jauh dan harus berganti-ganti bus, mereka akhirnya memilih jalan-jalan ke Malioboro di Yogyakarta," ujar perempuan paruh baya itu.

    Menurut Bibit, keluarga eks Gafatar tersebut bilang mau beli oleh-oleh saat ditanya polisi yang berjaga di gerbang Asrama Haji Donohudan. "Kami niatnya cuma menolong. Anak saya tidak meminta bayaran, cuma dikasih uang bensin untuk antar-jemput dengan mobil," tutur Bibit.

    Bibit menambahkan, satu keluarga eks Gafatar asal Medan itu berangkat ke Yogyakarta naik bus dan kembali naik kereta api. "Sekitar pukul 18.00, anak saya menjemput mereka di Stasiun Purwosari, Kota Surakarta, dan langsung diantar ke Asrama Haji Donohudan," ucap Bibit.

    Senada diutarakan Mulyani, pedagang makanan yang membuka lapak bongkar-pasang tepat di depan pagar Asrama Haji Donohudan. "Tadi ada eks Gafatar asal Medan yang menanyakan pusat belanja batik di Solo," kata perempuan 35 tahun itu.

    Setelah diberi tahu ihwal Pusat Grosir Solo (PGS), kata Mulyani, lima eks Gafatar itu langsung memesan taksi. "Mereka baru sekali ke Jawa. Mumpung masih di sini, mereka sempatkan berbelanja," ujar Mulyani.

    Kepala Sub-Direktorat Ketahanan, Seni, Budaya, Agama, dan Kemasyarakatan Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Jawa Tengah, Prayitno Suyatmo, tidak menampik kabar ihwal bebasnya para eks Gafatar asal Kota Medan bepergian ke luar kota. "Sebab, data kependudukan mereka sudah valid dan tinggal menunggu kapan akan dijemput Pemerintah Provinsi Sumatera Utara," tutur Prayitno.

    Dari 404 eks Gafatar yang masih ditampung di Asrama Haji Donohudan, 302 orang di antaranya akan dipulangkan ke Sumatera Utara.

    "Saya sudah menghubungi pihak sana (Sumatera Utara). Katanya, mereka belum bisa menjemput dalam pekan ini. Mereka bilang masih berkonsultasi dengan pemerintah pusat ihwal rencana penjemputan eks Gafatar," ucap Prayitno.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.