Perusakan Patung di Purwakarta Bukan yang Pertama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patung Arjuna di Purwakarta dibakar. Dok.Polres Purwakarta

    Patung Arjuna di Purwakarta dibakar. Dok.Polres Purwakarta

    TEMPO.COJakarta - Aksi perusakan yang disertai pembakaran patung di Purwakarta bukan kali ini saja terjadi. Pada 2011, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sudah mengalami aksi serupa. Waktu itu tidak tanggung-tanggung, massa merobohkan banyak patung sekaligus dalam waktu dua hari.

    Perusakan itu terjadi pada 18 September 2011. Patung pertama yang dirobohkan dan dibakar adalah patung Gatotkaca di perempatan Comro. Kemudian massa sambil mengendarai mobil dan sepeda motor bergerak ke arah pertigaan Bunder. Kali ini patung Semar yang mendapat giliran dirobohkan.

    Belum puas dengan dua patung, massa mendatangi pertigaan Ciwareng. Patung Bima jadi sasaran dan langsung dirobohkan. Sehari sebelumnya massa sudah terlebih dahulu membakar patung Kresna di Jalan Martadinata.

    Berbeda dengan pembakaran patung Arjuna, waktu itu massa merobohkan patung-patung itu dengan cara ditarik menggunakan tambang yang diikatkan ke sebuah kendaraan roda empat. Aksi massa waktu itu dilakukan setelah mereka mendengar ceramah Ketua Forum Umat Islam Indonesia asal Bandung, Athian Ali Dai.

    Bersama sejumlah kiai asal Purwakarta, Athian menyinggung soal keberadaan patung-patung wayang golek yang tersebar di sejumlah lokasi strategis di Purwakarta. “Berhala adalah lambang kemusyrikan,” seru KH Ridwan Syah Alam.

    Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sendiri diultimatum untuk merobohkan semua patung wayang yang ada dalam waktu dua pekan. "Jika dalam dua pekan tak dirobohkan sendiri, umat Islam yang akan merobohkannya," kata Toto Taufik, Ketua Halalbihalal Umat Islam Purwakarta, saat dihubungi Tempo, 19 September 2011.

    Pembangunan patung wayang tersebut tak lepas dari keinginan Bupati Dedi Mulyadi yang ingin mengembalikan identitas kesundaan Purwakarta. Namun niat itu ditolak ulama Purwakarta.

    "Misi Ki Sunda yang diemban Dedi adalah romantisisme," kata Abdullah AS Djoban, yang kerap menentang pendekatan ala Dedi. Buat Djoban, pembangunan patung merupakan bukti Dedi sedang menanamkan kemusyrikan yang sangat ditentang keras oleh Islam. "Makanya harus dilawan."
     
    EVAN | PDAT | NANANG SUTISNA | SUMBER DIOLAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.