Survei Ini Menunjukkan Kerukunan Beragama di Indonesia Baik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Kementerian Agama mengeluarkan rilis terkait dengan hasil survei terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia. "Ini kami angkat ke publik agar bisa menjadi kampanye kerukunan agama," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, pada Rabu, 10 Februari 2016.

    Dalam survei itu disebutkan bahwa kerukunan umat beragama pada 2015 berada pada angka 75,36 dengan skala 0-100. Kementerian Agama menilai angka ini cukup bagus jika dilihat dalam konteks yang lebih luas. Meski, kata Lukman, tak dimungkiri pula tetap ada kasus intoleransi yang terjadi.

    Menteri Agama melanjutkan, jika dilihat kasus per kasus, masih banyak terjadi peristiwa intoleran, seperti di Tolikara, Papua, dan Singkil, Aceh. Lukman mengatakan pemerintah tak menutup mata bahwa kasus-kasus itu tetap menjadi perhatian pemerintah.

    Secara umum, menurut Lukman, wilayah Indonesia yang begitu luas dan dengan tingkat kemajemukan yang luar biasa bisa dikatakan kerukunan sudah cukup baik. "Kasus intoleransi terjadi karena adanya faktor lain di luar agama."

    Faktor-faktor itu, kata Lukman, bisa politik yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah. Tak sedikit dalam kampanye pilkada terjadi gesekan yang dipicu pemahaman agama yang disalahgunakan.

    Lukman menganggap agama sering kali hanya dijadikan pijakan atau justifikasi bagi kepentingan-kepentingan tertentu untuk membentuk konflik. "Di akar rumput sebenarnya tak ada masalah, di elite yang kadang memanaskan."

    Survei yang dilakukan Kementerian Agama ini dilakukan secara kuantitatif, dengan cara pengambilan sampel multistage random sampling. Responden sendiri berjumlah 2.720 orang mewakili keluarga yang tersebar di 34 provinsi. Tingkat kerukunan diukur melalui tiga indikator, yaitu tingkat toleransi, kesetaraan, dan kerja sama antarumat beragama.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.