Sudah Lima Pesawat Jatuh Asal Pangkalan Udara Malang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat tempur taktis ringan Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Pakis, Malang, 26 September 2014. Super Tucano diterbangkan langsung dari pabriknya, Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer), di Sao Paulo, Brasil. TEMPO/Abdi Purmono

    Pesawat tempur taktis ringan Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Pakis, Malang, 26 September 2014. Super Tucano diterbangkan langsung dari pabriknya, Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer), di Sao Paulo, Brasil. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Malang - Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, belum memberi konfirmasi jenis pesawat yang jatuh di permukiman penduduk pada siang hari ini, Rabu, 10 Februari 2016.

    Pesawat tempur taktis milik TNI Angkatan Udara yang jatuh di Jalan LA Sucipto Gang 12, Kelurahan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, itu diduga jenis Super Tucano bernomor seri TT-1308 yang bermarkas di Skadron 21 di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

    Kendati belum ada konfirmasi resmi, pesawat itu adalah pesawat Super Tucano pertama yang jatuh  sejak dibeli TNI Angkatan Udara dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer), Brazil. Ada 16 unit Super Tucano yang dibeli untuk menggantikan armada OV-10 Bronco. Sejak pengiriman pertama 2012 lalu, sudah delapan pesawat yang diterima.

    Selain menjadi pesawat Super Tucano pertama yang jatuh, kecelakaan tersebut merupakan musibah kelima yang dialami Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh dalam 11 tahun terakhir. Tempo mencatat, Pangkalan yang berlokasi di Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, itu telah kehilangan setidaknya lima pesawat dengan korban jiwa jadi 36 jiwa, terdiri atas 21 anggota TNI Angkatan Udara dan 15 warga sipil.

    Dalam peristiwa yang terjadi hari ini, personel yang meninggal adalah pilot Super Tucano. Sedangkan teknisi pesawat, Sersan Mayor Syaiful, masih dalam pencarian. Adapun warga sipil yang tewas termasuk dua warga yang tempat tinggalnya kejatuhan badan pesawat.

    Menariknya, selain Super Tucano, seluruh pesawat jatuh di bulan dan tanggal yang berdekatan dan hampir sama. Sebelum Super Tucano jatuh, kecelakaan lebih dulu dialami pesawat angkut militer Hercules C-130 bernomor register A-1310 di Kota Medan pada Selasa siang, 30 Juni 2015.

    Kecelakaan pesawat yang berkandang di Skadron 32 ini menewaskan 20 anggota TNI AU dan 13 warga sipil. Ini menjadi kecelakaan keempat yang dialami Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

    Kecelakaan pertama terjadi pada Jumat, 22 Juli 2005. Pesawat tempur taktis OV-10 Bronco TT-1011 jatuh di Gunung Limas, Desa Gadingkembar, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kecelakaan ini menewaskan Mayor (Penerbang) Robby Ibnu Robert dan Letnan Dua (Penerbang) Harchus Aditya Wing Wibawa.

    Persis berselang dua tahun, OV-10 Bronco TT-1014 jatuh di ladang tebu Dusun Bunut, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Senin, 23 Juli 2007. Lokasi kejadian berjarak 1,5 kilometer dari ujung landasan pacu pangkalan. Letnan Dua (Penerbang) Eliseus Quinta Rumiarsa tewas, sedangkan Mayor (Penerbang) Danang Setyabudi, sang instruktur, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi pelontar.

    Dua kecelakaan tersebut mengurangi jumlah OV-10 Bronco menjadi tinggal tujuh unit. Sebelumnya, di era 1990-an, satu unit Bronco juga jatuh. Akhirnya, Markas Besar TNI Angkatan Udara menghentikan seluruh pengoperasian OV-10 Bronco.

    Pesawat yang dipakai Angkatan Udara sejak 1976 itu dipensiunkan pada Oktober 2010 dan kandangnya, yakni Skadron 21, kini dihuni delapan pesawat tempur ringan Super Tucano yang dibeli dari pabrikan Embraer.

    Berikutnya, kecelakaan ketiga dialami pesawat CASA C-212-200 dari Skadron 4. Pesawat bernomor register A-2106 ini jatuh di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, 26 Juni 2008. Pesawat jatuh saat melakukan misi uji coba kamera baru dari Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI Angkatan Udara. Sebanyak lima anggota TNI Angkatan Udara dan 13 penumpang tewas dalam kecelakaan ini.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.