Super Tucano Jatuh di Malang, Apa Kelebihan Pesawat Itu?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat tempur taktis ringan Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, pada September 2014. Indonesia memesan 16 Tucano dan baru 8 pesawat yang datang. TEMPO/Abdi Purmono

    Pesawat tempur taktis ringan Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, pada September 2014. Indonesia memesan 16 Tucano dan baru 8 pesawat yang datang. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.COMalang - Pesawat latih milik TNI Angkatan Udara jenis Super Tucano jatuh di Jalan LA Sucipto Gang 12, Kelurahan Blimbing, Kota Malang. Pesawat jatuh di area permukiman padat pukul 10.00 WIB, Rabu, 10 Februari 2016. 

    Melihat penampilan pesawat Super Tucano milik TNI AU, bakal teringat pesawat legenda milik TNI AU si “cocor merah” alias Mustang P-51. Tucano, yang dalam bahasa Portugis berarti burung tukan, dibuat untuk fungsi serang darat dan menumpas pemberontakan. 

    Di negara asalnya, Brasil, Super Tucano lahir untuk proyek pengawasan penerbangan dan perlintasan ilegal di wilayah perbatasan di belantara hutan Amazon. Embraer, pabrikan Super Tucano, mendesain pesawat yang cocok dengan iklim tropis serta mampu terbang di segala kondisi cuaca, baik siang maupun malam.

    Pesawat baling-baling ini berkapasitas bahan bakar 695 liter dengan daya jelajah sejauh 4.820 kilometer selama 6,5 jam nonstop. Sebagai pesawat kecil yang lincah, Super Tucano mampu terbang rendah dengan kecepatan rendah alias lo & lo mission

    Tanah lapang tak beraspal pun bisa didarati pesawat ini. Mesin EMB-314 Super Tucano berlabel PT6A-68A Turboprop Pratt & Whitney, produk United Technologies, Amerika Serikat. Sebagai pesawat tempur taktis antigerilya, pesawat ini dilengkapi teknologi night vision goggle (NVG) buatan Israel yang membantu pilot terbang di malam hari.

    Super Tucano bisa membawa lima jenis bom atau peluru kendali berbeda sekaligus dengan total beban 1.500 kilogram. Belum termasuk dua senapan mesin 12,7 milimeter yang ada di sayapnya, yang bisa memuntahkan 1.100 peluru per menit. 

    EVAN | PDAT | SUMBER DIOLAH

    Koreksi:
    Berita ini sebelumnya berjudul Pesawat Latih TNI AU Jatuh di Malang Timpa Rumah Warga.Artikel tersebut kami koreksi pada pukul 13.03, 10 Februari 2016, karena berita serupa telah tayang beberapa saat sebelumnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.